OPINI: Mesut Ozil dan Arsenal Berada di Titik Akhir dalam Hubungan Mereka

Mesut Ozil / Arsenal
Mesut Ozil / Arsenal / Chloe Knott - Danehouse/Getty Images
facebooktwitterreddit

Mesut Ozil mendapatkan sorotan yang tinggi ketika didatangkan oleh Arsenal dari Real Madrid pada bursa transfer musim panas 2013. Klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu mengeluarkan biaya sebesar 42,5 juta Pound, yang saat itu menjadi pengeluaran tertinggi mereka untuk rekrutmen pemain. Ekspektasi tinggi diberikan kepada Ozil saat berlabuh ke Inggris.

Mantan pemain Schalke 04 dan Werder Bremen itu diharapkan dapat membangkitkan The Gunners yang kesulitan bersaing dengan tim-tim papan atas di Liga Inggris dan Eropa. Ozil yang dikenal dengan kemampuannya menciptakan peluang dan mampu membangun serangan, baik dari permainan terbuka maupun bola mati, juga menjadi rekrutmen pemain bintang bagi Arsenal yang sempat mengalami kesulitan finansial tinggi sejak pindah ke Emirates Stadium pada 2006.

Mikel Arteta & Mesut Ozil / Arsenal
Mikel Arteta & Mesut Ozil / Arsenal / Visionhaus/Getty Images

Sepanjang kariernya dengan Arsenal, Ozil tampil dalam 254 pertandingan di seluruh kompetisi, dengan catatan 44 gol dan 77 assist. Walau dapat disebut menjalani karier dengan kesuksesan yang relatif tinggi, Ozil tidak luput dari kritik dan sorotan negatif.

Inkonsistensi, terutama dalam pertandingan-pertandingan besar, membuatnya sering mendapatkan penilaian buruk.

Kritik kepada Ozil meningkat ketika ia mendapatkan perpanjangan kontrak dengan durasi tiga tahun pada Februari 2018. Kontrak tersebut membuat Ozil diklaim mendapatkan gaji senilai 350 ribu Pound per pekan.

Gaji tinggi membuat ekspektasi terhadap Ozil terus meningkat, yang jarang dipenuhi oleh sang pemain, akibat cedera atau penurunan performa.

Ozil semakin sering mendapatkan kritik pada masa kepelatihan Unai Emery (2018 hingga 2019), dan periode tersebut juga diiringi dengan kesulitan yang signifikan bagi tim London Utara tersebut dalam berbagai kompetisi. Kedatangan Mikel Arteta sebagai pengganti meningkatkan harapan bagi Ozil untuk bangkit, mengingat keduanya pernah bermain bersama pada 2013 hingga 2016.

Namun, Arteta memiliki pandangan yang berbeda terkait arah yang ingin dicapai oleh Arsenal. Arteta saat ini menetapkan kedisiplinan saat bertahan sebagai prioritas utama dalam timnya, seperti yang terlihat dari kebangkitan pemain seperti Granit Xhaka, Shkodran Mustafi, dan (walau masih inkonsisten), David Luiz.

Meskipun memiliki permasalahan terkait kreasi peluang, seperti yang diperlihakan di klasemen Liga Inggris terkait peluang besar yang diciptakan, Arteta tetap memutuskan untuk tidak menggunakan Ozil setelah kompetisi sepakbola di Inggris kembali berlanjut.

Ozil sama sekali tidak tampil dalam pertandingan-pertandingan Liga Inggris dan Piala FA yang dijalani oleh Pierre-Emerick Aubameyang dan rekan-rekannya.

Perbedaan pandangan antara Arteta (terkait direksi yang ingin dicapai timnya) dan kemampuan yang dimiliki Ozil terlihat jelas setelah mantan pemain Timnas Jerman itu mendapatkan izin untuk kembali ke Turki. Ozil kembali mendapatkan kritik terkait tindakan yang dilakukannya, dengan tidak menyaksikan kesuksesan rekan-rekannya menjuarai Piala FA.

Ozil kini hanya perlu menunggu waktu, menghitung hari menuju akhir kariernya dengan Arsenal. Penurunan performa dari seorang pemain memang hal yang wajar, setiap atlet mengalami hal ini dalam kariernya.

Sayangnya, apa yang terjadi dengan Ozil diiringi dengan sorotan negatif terkait gaji yang diterimanya, inkonsistensi, dan permasalahan cedera.

Setelah datang dari Spanyol (Real Madrid) dan mendapatkan sorotan tinggi, Ozil berpeluang besar hengkang dari Arsenal dengan reaksi yang berbanding terbalik. Ozil seakan menghilang secara perlahan, dengan misteri terkait keputusan Arteta untuk tidak menggunakannya sama sekali.