Our20

Witan Sulaeman, Wonderkid Indonesia Menembus Eropa

Gerry
Oleh Gerry
Witan Sulaiman
Witan Sulaiman /
facebooktwitterreddit

Nama Witan Sulaeman bukan nama yang asing jika kita membicarakan pesepak bola muda Indonesia. Ia menjadi andalan tim nasional di usianya yang belia.

Witan sudah menjadi buah bibir saat masih memperkuat timnas U19. Ia juga menjadi andalan timnas senior di ajang Piala AFF 2020 di usianya yang masih 20 tahun.

FBL-AFF-THA-INA
Witan di Timnas Indonesia saat bermain di Piala AFF 2020 / ROSLAN RAHMAN/GettyImages

Di ajang itu, Witan tampil dalam tiga pertandingan penyisihan. Ia selalu bermain, baik sebagai starter maupun pemain pengganti.

Posisi Witan merupakan penyerang sayap. Ia mampu menerjemahkan instruksi pelatih di posisinya denga sangat efektif dan efisien. Selain memiliki ketetangan membawa bola, Witan juga jago dalam hal umpan dan tembakan.

Semua kelebihan Witan didapat tidak secara instan. Butuh kerja keras dan usaha agar bisa mendapatkan kemampuan dan kepercayaan di timnas senior.

Berani Keluar dari Palu

Pemain kelahiran Palu, 8 Oktober 2001 ini mengawal perkenalannya dengan sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) Galara Utama. Ia belajar di SSB tersebut pada 2013 hingga 2016.

Ambisinya di sepak bola memang bukan hal remeh. Berangkat dari keluarga sederhana, Witan memiliki mimpi tinggi di sepak bola.

Witan bukan lahir dari keluarga yang serba 'wah'. Ayahnya, Humaidi, hanya berprofesi sebagai pedagang sayur. Namun, keluarganya mendukung mimpi sang anak untuk bisa menjadi pesepak bola profesional.

Latihan Witan tidak disertai dengan fasilitas yang mumpuni. Karena minimnya fasilitas, Witan mengaku banyak belajar kemampuan sepak bola secara ototidak.

Tidaklah heran jika sang ayah mengungkapkan bahwa keseharian Witan sejak kecil hanya tentang dua hal, yakni sekolah dan sepak bola. Dua hal penting bagi Witan dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan masa kecilnya.

Witan kabarnya bahkan kerap menangis jika tak diantarkan orang tuanya ke lapangan sepak bola untuk latihan. Kemauan yang keras membuatnya berkembang menjadi pemain luar biasa di usianya.

Bermain di SSB Galara Utama, bakat Witan tercium pelatih. Ia bahkan mampu menembus ketatnya persaingan untuk masuk ke Sekolah Khusus Olahragawan (SKO) Ragunan. Kemampuan Witan terus meningkat selama berlatih di SKO.

Witan punya alasan mengapa dirinya berani mengadu nasib ke Ibukota. Kesempatan mengembangkan diri menjadi stimulus mengapa Witan tak mau berdiam diri di Palu.

Selain itu, berangkat ke Jakarta juga merupakan saran sang ayah. Terbukti keputusan tersebut tepat dan berbuah manis.

"Saya yakin tidak akan berkembang bila tetap di Palu,” kata Witan seperti dikutip dari Bolasport.

"Di Palu dulu minim ajang untuk pesepak bola usia dini. Kalaupun ada, sifatnya hanya pertandingan tarkam. Kalau di Jakarta, lebih banyak kompetisi yang diikuti. Begitu juga di Ragunan, malah bisa mengikuti turnamen internasional di luar negeri," tuturnya.

Melejit di Tim Nasional

Bakat Witan tercium Indra Sjafri, pelatih timnas U16 saat itu. Pada 2017 ia mencetak gol perdananya di Piala AFF U16 dalam laga melawa Brunei Darussalam.

Witan Sulaeman
Witan saat cetak gol lawan Singapura di semifinal Piala AFF 2020 / Yong Teck Lim/GettyImages

Paten di timnas U16, Witan naik kelas ke timnas U19. Ia menjadi pemain yang bersinar di kelompok usia tersebut. Bahkan saja, Witan tak kesulitan saat dirinya promosi ke timnas U23.

Caps timnas senior juga sudah didapatnya dalam usia muda. Witan diturunkan dalam pertandingan uji coba timnas melawan Oman pada 29 Mei 2021. Pemain mura senyum ini masuk menggantikan Evan Dimas pada menit 68.

Berkarier di Eropa

Witan, dengan segala kemampuannya akhirnya mampu menembus Eropa. Klub benua biru pertama yang dibelanya adalah Radnik Surdulica. Klub tersebut bukan klub sembarangan, karena berstatus klub kasta tertinggi Liga Serbia.

Setelah kontraknya habis, Witan pindah ke Lechia Gdansk di Liga Polandia. Bermain di Eropa membuat kemampuannya meningkat dan juga meluasnya wawasan sebagai pesepak bola.

Tidak lama di Lechia, Witan dipinjamkan ke FK Senica, klub Liga Slovakia. Permainan Witan berkembang pesat. Bersama Egy Maulana Vikri yang juga membela Senica, Witan cukup membuat pengaruh bagi permainan tim.

Sayangnya, Senica mengalami kebangkrutan. Witan harus pulang ke Indonesia karena gajinya yang tak kunjung dibayar selama beberapa bulan terakhir.

Meski begitu, Witan diyakini akan tetap berkarier di Eropa. Keinginannya untuk bisa menjadi pesepak bola hebat, membuat Witan akan terus berkelana di benua biru. Tentu ini menjadi keuntungan bagi timnas yang kini mulai era baru di tangan Shin Tae-yong.

facebooktwitterreddit