Raheem Sterling Tak Diperlakukan Secara Adil Saat Masih Membela Liverpool
Oleh Amanda Amelia

Liverpool memperlihatkan perkembangan performa yang cukup signifikan pasca bermain di bawah arahan Jurgen Klopp, mereka juga sudah memenangkan Liga Champions sekaligus dua gelar lainnya, yakni UEFA Super Cup dan Piala Dunia Antarklub.
Sayang, kesuksesan yang diraih The Reds tidak bisa dinikmati oleh Raheem Sterling, di tahun 2015, pemain asal Inggris itu memilih untuk mengadu nasib dengan Manchester City.
Enjoyed speaking to @RyanMcL2 about his career at #LFC.
— Neil Jones (@neiljonesgoal) May 5, 2020
Great insight into the likes of Raheem Sterling and Brendan Rodgers, as well as a brilliant story about his first session at Melwood, which ended with Craig Bellamy threatening to kill him! https://t.co/Wl0qsPAE7w
Kini sebuah pernyataan menarik disampaikan oleh mantan rekan setim Sterling saat masih membela Liverpool, Ryan McLaughlin, menurutnya klub yang bermarkas di Anfield itu sama sekali tak memperlakukan sang pemain secara adil. Alasannya, karena The Reds menayangkan perselisihan antara Sterling dengan Brendan Rodgers pada 2012 di dokumentari resmi, Being Liverpool.
"Saya benar-benar tidak mengerti mengapa saat itu pihak klub seperti mengkhianati Raheem Sterling. Dia masih sangat muda, peristiwa itu (perseteruan dengan Rodgers) bisa menghancurkannya. Usianya kala itu juga baru 17 tahun. Terkadang, saya membayangkan jika hal tersebut terjadi pada diri sendiri," ungkap McLaughlin seperti dilansir Liverpool Echo.
"Seluruh anggota keluarga menontonnya, Anda pasti merasa kecewa karena ada hal yang seharusnya tidak diketahui publik. Mungkin Sterling sempat tidak bisa melupakan peristiwa itu selama beberapa waktu, rasanya benar-benar tidak adil. Di sisi lain, orang-orang yang mengenal dan menghabiskan banyak waktu dengannya tahu betapa baiknya Sterling," tambahnya.
Ryan McLaughlin on Sterling and Being Liverpool: “Rodgers calling him out, I’ve no problem with that. He’s the manager. But to air it? I felt that was wrong. It was poorly managed.
— Anfield Edition* (@AnfieldEdition) May 5, 2020
"It’s probably something that stuck with Raheem for a long time afterwards, which was unfair.”
Pilihan Sterling untuk bergabung ke Etihad Stadium nampaknya memang tepat. Dia terus berkembang, terlebih pasca bermain di bawah arahan Pep Guardiola. Terakhir di musim 2018/19, pemain berusia 25 tahun itu sukses memenangkan tiga gelar domestik, yakni Liga Primer Inggris, Piala Liga dan Piala FA.