Kylian Mbappe

Mengapa Keputusan Mbappe Menolak Real Madrid Menjadi Tanda Era Baru dalam Sepak Bola

Dananjaya WP
Kegagalan Real Madrid mendatangkan Mbappe menjadi era baru dalam sepak bola
Kegagalan Real Madrid mendatangkan Mbappe menjadi era baru dalam sepak bola / John Berry, FRANCK FIFE/AFP / GettyImages
facebooktwitterreddit

Kylian Mbappe mengejutkan dunia sepak bola setelah memutuskan untuk memperpanjang kontraknya di PSG. Bintang sepak bola Prancis itu menyepakati perpanjangan kontrak hingga 2025. Seharusnya, kontrak Mbappe habis pada akhir musim 2021/22. Pemain yang baru berusia 23 tahun itu dikaitkan dengan Real Madrid sepanjang musim.

Madrid bahkan beberapa kali disebut sudah mencapai kesepakatan dengan Mbappe, dan menetapkan sang pemain sebagai bintang utama yang akan mereka rekrut pada bursa transfer musim panas mendatang. Laporan dari berbagai media Madrid dipublikasikan dengan keyakinan yang sangat tinggi.

Pada akhirnya, Mbappe memutuskan untuk bertahan dengan Les Parisiens. Kali ini kami akan membahas mengapa perpanjangan kontrak Mbappe di PSG memiliki makna yang signifikan dan dapat disebut sebagai tanda dimulainya era baru dalam dunia sepak bola.


4. Mbappe Melanjutkan Takdir di Paris

Kylian Mbappe
Mbappe dan PSG nampak sudah menjadi takdir sejak lama / Xavier Laine/GettyImages

Kylian Mbappe dikenal Eropa dan dunia sepak bola sejak awal kariernya di AS Monaco yang berlangsung pada 2013 hingga 2017. Mbappe bergabung dengan Monaco dari Bondy pada 2013. Bondy adalah daerah di pinggir Paris (sekitar 11 km dari pusat kota) dan termasuk dalam bagian daerah penting dalam perkembangan sepak bola di negara tersebut.

Berbagai daerah di Paris dan sekitarnya dikenal sebagai pusat pengembangan penting dalam sepak bola. Mulai dari Nicolas Anelka, Alphonse Areola, Kingsley Coman, N’Golo Kante, Anthony Martial, hingga Christopher Nkunku. Paris serupa dengan London (ibu kota Inggris) sebagai kota yang menjadi bagian penting dari perkembangan sepak bola negara tersebut.

Kepindahan Mbappe ke Monaco pada 2013 membuatnya menjadi salah satu bagian pemain yang meninggalkan Paris ketika PSG merekrut berbagai pemain bintang. Secara umum, pemain-pemain berbakat yang hengkang dari daerah Paris atau PSG tidak kembali ke Parc des Princes.

Tetapi Mbappe berbeda. Peningkatan statusnya menjadi bintang pada 2015 hingga 2017 membuatnya dipantau berbagai klub besar di dunia. Tawaran yang datang dari PSG dapat disebut sebagai takdir. PSG memandang Mbappe sebagai pemain yang ideal untuk menjadi sosok sentral dalam identitas proyek besar mereka.

Sementara Mbappe ingin kembali ke Paris sebagai upaya untuk mengembangkan kariernya. Sejak Mbappe kembali ke Paris, tidak membutuhkan waktu yang lama sebelum berbagai media mengaitkannya dengan Real Madrid. Berbagai foto Mbappe dari masa lalu dengan poster Real Madrid di kamarnya, dan berbagai spekulasi bahwa Los Blancos adalah klub impian sang pemain.

Saat ini, Mbappe dan PSG masih akan melanjutkan kisah mereka, setidaknya untuk beberapa musim mendatang.



3. Perkembangan Konflik yang Tidak Masuk Akal

Toni Kroos, Kylian Mbappe
Mengapa LaLiga harus ikut campur dengan urusan dua klub terkait transfer pemain? / Quality Sport Images/GettyImages

Perpanjangan kontrak Kylian Mbappe di PSG tidak hanya mengundang reaksi positif dari suporter klub tersebut, media Prancis, hingga penonton Ligue 1. Reaksi negatif datang dari berbagai media Spanyol yang dekat dengan Madrid – berbagai media yang mengabarkan bahwa Mbappe berpeluang 99% bergabung dengan Real Madrid.

Secara mengejutkan, pernyataan juga disampaikan oleh Javier Tebas, Presiden La Liga. Tebas menyampaikan kritik terkait status PSG sebagai klub yang mendapatkan investasi dari negara (Qatar) sehingga dapat mengeluarkan dana yang besar untuk merekrut atau memperpanjang kontrak pemain.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Tebas bukan sesuatu yang baru. Tebas termasuk dalam salah satu sosok penting di sepak bola Eropa yang konsisten menyampaikan kritik terhadap klub-klub yang didukung oleh negara seperti PSG (Qatar) dan Manchester City (Uni Emirat Arab).

Kali ini, Tebas menyatakan niat untuk mengajukan tuntutan kepada UEFA (Asosiasi Sepak Bola Eropa) atas dugaan PSG melanggar peraturan FFP (Financial Fair Play). Pernyataan dari Tebas mengundang balasan dari berbagai pihak. Mulai dari Nasser Al-Khelaifi (Presiden PSG), Vincent Labrune (Presiden LFP / kompetisi sepak bola Prancis), hingga UNFP (Asosiasi Pemain Sepak Bola Prancis).

Mbappe memang pemain yang spesial. Klub seperti Real Madrid yang memiliki kemampuan untuk mendatangkannya patut berusaha semaksimal mungkin. Tetapi penolakan seharusnya tidak mengundang reaksi seperti ini.

Kritik yang disampaikan oleh La Liga memang benar. Tetapi patut diingat, Real Madrid (dan Barcelona) juga pernah merasakan bantuan dari Spanyol dalam beberapa kesempatan. Terdapat berbagai artikel dan laporan yang menyatakan bahwa beberapa klub mendapat bantuan dari Spanyol, terutama dari segi peraturan pajak.

Apabila Tebas dan La Liga ingin melakukan tindakan terkait PSG, Manchester City, dan penerapan peraturan FFP, mereka seharusnya melakukannya tanpa mengeluarkan pernyataan publik sebelum komplain atau tuntutan resmi sudah diajukan kepada pihak berwenang.


2. Menolak Real Madrid adalah Sebuah Kejutan

Kylian Mbappe, Karim Benzema
Menolak tawaran Real Madrid adalah kejutan tersendiri / Jonathan Moscrop/GettyImages

Seperti yang disampaikan sebelumnya, saga transfer Kylian Mbappe ke Real Madrid sudah berlangsung selama empat tahun terakhir. Dalam hampir setiap bursa transfer, berbagai media mengabarkan minat Madrid terhadap Mbappe. Klub ibu kota Spanyol itu memang mencari penyerang baru sebagai penerus dari Karim Benzema (dan Cristiano Ronaldo).

Hubungan dekat antara Benzema dan Mbappe dipandang sebagai aspek penting dalam upaya mendatangkan bintang muda Prancis itu. Tetapi Mbappe membuat harapan itu sirna (setidaknya saat ini). Mbappe sudah menghubungi Florentino Perez (Presiden Real Madrid) secara pribadi untuk menyampaikan keputusannya.

Mbappe mengungkapkan bahwa perjalanannya di Paris belum selesai. Ambisi PSG untuk meraih gelar juara Liga Champions belum dapat dipenuhi. Pemain yang ingin memenuhi ambisi tersebut patut dihargai.

Kritik juga dapat diarahkan kepada Florentino Perez dan manajemen Real Madrid. Mbappe memang pemain yang ideal untuk memenuhi keinginan mereka untuk memperkuat lini depan. Tetapi seharusnya mereka memahami adanya peluang – serendah apapun itu – bagi Mbappe untuk memutuskan bertahan di PSG.

Klub seperti Real Madrid seharusnya memiliki alternatif. Mbappe memang pantas disebut sebagai pemain yang unik. Sulit untuk mencari pemain dengan kualitas yang sebanding, tertutama dalam deretan usianya. Namun Los Blancos nampak terlalu takut untuk mengulangi kegagalan mereka dengan pemain-pemain seperti Luka Jovic dan Eden Hazard.


1. Era Baru dalam Sepak Bola

Nasser Al-Khelaifi, Kylian Mbappe
Pengaruh media sosial terhadap persepsi kontrak Mbappe / Eurasia Sport Images/GettyImages

Perpanjangan kontrak Kylian Mbappe di PSG pantas disebut sebagai era baru dalam dunia sepak bola. Sorotan sering diberikan kepada klub-klub dengan kekuatan finansial yang luar biasa. Kini, kekuatan pemain terhadap klub juga patut dibicarakan. Mbappe bukan satu-satunya pemain dalam beberapa tahun terakhir yang memanfaatkan akhir kontrak mereka untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Dari Liga Inggris musim ini, spekulasi mengenai masa depan Mohamed Salah dan Sadio Mane di Liverpool, Paul Pogba di Manchester United, hingga Antonio Rudiger di Chelsea cukup sering diberitakan.

Ketika perpanjangan kontrak Mbappe diumumkan, media Spanyol seperti El Chiringuito dan Marca memberitakan kekuatan tambahan yang diberikan kepada sang pemain oleh PSG. Terdapat kabar yang menyatakan bahwa Mbappe akan mendapat wewenang terkait transfer pemain, penunjukkan pelatih utama, dan berbagai keputusan lainnya.

Pemain yang memiliki pengaruh terhadap keputusan yang diambil sebuah klub bukan hal yang baru. Lionel Messi pernah merasakannya di Barcelona. Hal seperti ini (umumnya) tidak tertulis di dalam kontrak pemain yang bersangkutan. Manajemen dapat menanyakan pendapat dari pemain itu terkait rekrutmen yang akan dilakukan.

Kecocokan di dalam ruang ganti antar pemain serta antara pemain dan manajemen adalah hal yang sangat penting. Sejauh ini, Luis Campos dan Antero Henrique disebut akan mengisi posisi penting dalam manajemen PSG. Keduanya memiliki hubungan dengan Mbappe, tetapi kompetensi mereka di sepak bola Prancis dan Eropa juga tidak dapat dianggap remeh.

Sementara kandidat pelatih utama menggantikan Mauricio Pochettino terdiri dari Christophe Galtier, Ruben Amorim, dan Zinedine Zidane. Keberadaan nama Galtier dan Amorim menarik, mengingat keduanya tidak memiliki pengalaman melatih klub dengan status seperti PSG. Sedangkan Zidane masih mengincar posisi pelatih utama Timnas Prancis.

Secara keseluruhan, PSG harus melakukan perubahan yang signifikan di dalam klub (mulai dari manajemen hingga rekrutmen) agar dapat memenuhi ambisi mereka menjuarai Liga Champions. Mbappe akan menjadi sosok sentral dari kesuksesan atau kegagalan yang akan mereka rasakan dalam beberapa tahun mendatang.

facebooktwitterreddit