Manchester United

Mengapa Keluarga Glazer Dapat Melepas Kepemilikan di Manchester United

Dananjaya WP
Keluarga Glazer kembali menghadapi potensi penjualan kepemilikan Manchester United
Keluarga Glazer kembali menghadapi potensi penjualan kepemilikan Manchester United / Michael Regan, Ash Donelon/Manchester United, Bryn Lennon
facebooktwitterreddit

Manchester United pantas disebut sebagai salah satu klub terbesar di dunia sepak bola, tidak hanya di Liga Inggris. Kesuksesan historis yang mereka raih di berbagai kompetisi membuat United dikenal di seluruh dunia, bahkan oleh pihak yang tidak mengonsumsi sepak bola secara rutin atau serius.

Tetapi, kesulitan yang terjadi dalam sembilan tahun terakhir membuat MU kini dipandang sebagai bahan lawakan dan meme. Trofi di berbagai kompetisi sulit diraih, terutama Liga Inggris, yang terakhir kali diraih pada musim 2012/13 (dalam musim terakhir di karier Sir Alex Ferguson sebagai manajer).

Kinerja manajemen klub sepanjang masa kepemilikan Keluarga Glazer (sejak 2005) sudah sering mendapat kritik. Setelah kelemahan di dalam klub ditutupi selama delapan tahun oleh Sir Alex Ferguson, permasalahan yang menumpuk secara perlahan terlihat semakin jelas.

Spekulasi mengenai peluang bagi Keluarga Glazer untuk melepas kepemilikan klub sudah beberapa kali terjadi, dan hingga kini belum menjadi realita. Kini, kami akan membahas mengapa keadaan itu dapat berubah.


5. Sejarah Kepemilikan Keluarga Glazer

Avram Glazer, Joel Glazer
Keluarga Glazer sudah sering menjadi subyek protes di Manchester United / Michael Regan/GettyImages

Keluarga Glazer mulai masuk ke Manchester United pada 2003. Kebutuhan untuk memperoleh dana investasi baru membuka kesempatan bagi keluarga pengusaha Amerika Serikat itu untuk masuk ke dalam struktur kepemilikan di Old Trafford. Pembelian saham dimulai secara perlahan, dengan jumlah kepemilikan 2,9%.

Kepemilikan Keluarga Glazer meningkat secara konsisten menjadi 3,17%, kemudian 8,93%, 16,31%, hingga mendekati 30% pada Oktober 2004. Ketika memasuki kepemilikan 30%, peraturan yang berlaku menyatakan bahwa mereka harus menyatakan niat untuk melakukan akuisisi (pemilik saham mayoritas).

Proses ini berlanjut pada Mei 2005, ketika Keluarga Glazer, melalui badan usaha Red Football, membeli saham senilai 28,7% yang dipegang J.P. McManus dan John Magnier. Pembelian ini membuat Keluarga Glazer memegang saham senilai 57%. Kemudian, pada bulan yang sama, pemblian saham senilai 12,8% membuat total saham Keluarga Glazer mendekati 75%, nilai tersebut membuat mereka dapat mengakhiri status Manchester United sebagai badan usaha publik yang terdaftar di Bursa Saham London.

Masih pada bulan yang sama, Keluarga Glazer kembali menambah saham mereka menjadi 75,7%. Satu bulan kemudian (Juni 2005), MU dicabut dari Bursa Saham London. Juni 2005 juga menjadi momen penting dalam proses ini, ketika nilai saham Keluarga Glazer meningkat menjadi 97,3% dan kemudian 97,6%. Momen itu memastikan sisa saham yang dapat dibeli berhasil diakuisisi oleh Keluarga Glazer menjadi 98%.

Selain adanya proses akuisisi yang agresif dan cepat, metode proses akuisisi ini juga patut disorot. Dana yang digunakan oleh Keluarga Glazer tidak berasal dari mereka sendiri. Dana untuk akuisisi muncul dari utang dengan aset klub sebagai jaminan, dengan nilai 660 juta Paun, dan pembayaran bunga yang berawal dengan nilai 62 juta Paun per tahun.

Nilai utang dan bunga ini memberi hambatan signifikan terhadap investasi terhadap klub. Terutama mengingat adanya peningkatan investasi ke klub-klub lain mulai dari 2005 hingga kini, mulai dari Chelsea, Manchester City, Arsenal, Tottenham Hotspur, hingga Newcastle United.


4. Kondisi Keuangan MU

Jadon Sancho, Nemanja Matic, Luke Shaw
Fokus Keluarga Glazer terhadap keuangan ketimbang kesuksesan sering disorot di Manchester United / Clive Brunskill/GettyImages

Terkait dengan berbagai spekulasi mengenai potensi akuisisi di Manchester United, kondisi keuangan mereka saat ini patut mendapat sorotan, tepatnya mengenai kekurangan klub dalam era kepemilikan Keluarga Glazer. Berdasarkan data dari analis finansial sepak bola, Swiss Ramble, terdapat banyak aspek yang mencolok.

Sejak 2016, Keluarga Glazer memperoleh pendapatan dividen senilai 166 juta Paun dari kepemilikan mereka di MU. Pembayaran bunga senilai 21 juta Paun per tahun masih menjadi yang tertinggi di Liga Inggris, dengan total 743 juta Paun sejak 2005. Nilai utang 604 juta Paun pada 2006 kini berada pada angka 592 juta Paun, tidak berbeda jauh setelah melalui 16 tahun.

Investasi terhadap modal (mulai dari infrastruktur seperti stadion dan fasilitas lainnya) berada pada angka 136 juta Paun dalam sepuluh (10) tahun terakhir, lebih rendah dari Fulham dan Leicester City. Sementara nilai transfer 1,4 miliar Paun sejak 2012 memang tinggi, tetapi berasal dari pendapatan klub secara murni, tanpa investasi dari pemilik.

Keluarga Glazer juga menjadi pemilik yang rutin menarik uang dari klub dalam sepuluh tahun terakhir, berbeda dengan klub-klub seperti Manchester City, Chelsea, dan bahkan klub papan tengah Aston Villa.

Secara keseluruhan, terdapat estimasi bahwa Keluarga Glazer telah menarik keluar dana  senilai 1,1 miliar Paun dari Manchester United (743 juta Paun dalam bentuk bunga, 147 juta Paun untuk pembayaran utang, 166 juta Paun untuk dividen, kompensasi direktur senilai 55 juta Paun, dan biaya manajemen senilai 23 juta Paun.

Hambatan juga terjadi dalam perolehan pendapatan. MU kini semakin dikejar oleh pesaing mereka, Liverpool dan Chelsea, sekaligus tertinggal dari Manchester City.


3. Jangan Anggap Elon Musk Serius

Potensi akuisisi Manchester United awalnya mendapat sorotan tinggi pada Rabu (17/8). Pengusaha Amerika Serikat, Elon Musk, menyampaikan rencananya dengan guyonan melalui akun media sosial Twitter. Pernyataan itu mengundang reaksi yang beragam, mulai dari harapan hingga guyonan.

Musk sudah pernah mendapat sorotan tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pengusaha yang terkenal dalam bidang teknologi itu (di Tesla dan SpaceX) mencoba untuk mengakuisisi media sosial Twitter. Setelah kesepakatan tercapai, Musk memutuskan untuk membatalkan pembelian setelah menganggap jumlah akun palsu yang menurutnya terlalu tinggi.

Musk memang pengusaha yang dikenal di seluruh dunia dan memiliki kekayaan yang tinggi. Tetapi pernyataannya mengenai Manchester United tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang serius, seperti yang dijelaskannya kemudian melalui akun media sosialnya.

Keinginan untuk mendapat sorotan dan perhatian sudah sering dilakukan oleh Musk sepanjang kariernya sebagai pengusaha. Suporter Man United sepatutnya tetap fokus terhadap manajemen klub yang buruk dalam kepemilikan Keluarga Glazer, dan mementingkan prospek akuisisi dari pengusaha yang lebih kredibel dibandingkan dengan Musk.


2. Mengharapkan Gerakan Protes Suporter

Manchester United v Liverpool FC - Premier League
Suporter Manchester United melakukan protes jelang pertandingan kontra Liverpool / Jan Kruger/GettyImages

Suporter Manchester United melakukan protes jelang pertandingan kontra Liverpool di Old Trafford pada Selasa (23/8) dini hari WIB. Protes dilakukan dengan damai dan mendapat pengawalan polisi. Protes dilakukan terkait kepemilikan Keluarga Glazer yang tidak memberikan investasi yang memadai sehingga tertinggal dibandingkan dari pesaing-pesaing utama mereka di Liga Inggris dan tingkat kontinental.

MU memang sudah mengeluarkan biaya yang melebihi 1 miliar Paun sejak 2013. Tetapi biaya tersebut dikeluarkan dengan uang yang diperoleh klub sebagai pendapatan. Sementara Keluarga Glazer secara rutin memperoleh dividen dari kepemilikan saham mereka dan juga pembayaran bunga untuk utang yang digunakan untuk mengakuisisi klub pada 2005.

Pada pertandingan kontra Liverpool, Manchester United memperkenalkan Casemiro yang didatangkan dari Real Madrid. Laga ini berakhir dengan kemenangan 2-1 atas The Reds, berkat gol-gol dari Jadon Sancho dan Marcus Rashford yang hanya dapat dibalas oleh Mohamed Salah.

Tetapi satu kemenangan dan satu pemain baru (yang didatangkan setelah gagal merekrut Frenkie de Jong dari Barcelona) tidak akan membuat Man United dapat mengejar pesaing-pesaing utama mereka.

Protes yang terjadi patut diperhatikan oleh suporter Manchester United di seluruh dunia, dan diberikan dukungan oleh suporter lainnya, mengingat kepemilikan seperti ini dapat terjadi di berbagai klub.


1. Tawaran Sir Jim Ratcliffe

Potensi yang kredibel untuk akuisisi Manchester United muncul dari salah satu pengusaha terkaya di wilayah Britania Raya, Sir Jim Ratcliffe. Melalui perwakilan dari INEOS Group, Ratcliffe menyatakan niat untuk melakukan akuisisi apabila terdapat kesempatan yang terbuka. Peluang akuisisi juga siap dilakukan dengan pembelian saham minoritas dengan potensi peningkatan kepemilikan dalam jangka panjang.

Menurut laporan dari Independent, terdapat peningkatan optimisme dalam kelompok yang berminat terhadap Manchester United terkait kemungkinan akuisisi di masa depan. Peluang untuk akuisisi bahkan dipandang dapat terjadi dalam 24 bulan mendatang, dengan nilai yang mencapai 6 miliar Paun.

Sir Jim Ratcliffe dan INEOS Group tidak asing dalam dunia sepak bola. INEOS Group adalah pemilik dari klub OGC Nice, yang berpartisipasi dalam kompetisi Ligue 1 di Prancis. Ratcliffe juga sempat disorot ketika Chelsea melalui proses akuisisi. Tetapi tawaran yang terlambat membuatnya tidak dapat lolos ke tahap akhir seleksi.

Tawaran terhadap Chelsea itu disebut bermakna ganda. Selain adanya minat untuk mengakuisisi Chelsea, Ratcliffe juga masih memiliki niat untuk mendapatkan kepemilikan di Manchester United. Ratflicce ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kekayaan yang memadai untuk melakukannya.

Proses akuisisi untuk klub sebesar Manchester United, tanpa adanya masalah di pihak pemilik (berbeda dengan apa yang terjadi di Chelsea), akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Tetapi krisis di dalam lapangan dan tekanan yang terus meningkat dapat mempercepat proses ini.

facebooktwitterreddit