Piala Dunia 2022

Kilas Balik Perjalanan Jerman sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2006

Kemas Trimukti
 Germany - World Cup 2006
Germany - World Cup 2006 / Shaun Botterill/GettyImages
facebooktwitterreddit

Setelah di Piala Dunia 2002 diselenggarakan pada benua Asia tepatnya Korea Selatan dan Jepang, pada edisi 2006, FIFA menunjuk Jerman untuk menjadi tuan rumah saat berhasil mengalahkan calon lainnya seperti Afrika Selatan, Inggris dan Maroko.

Ditunjuknya Jerman sebagai tuan rumah pada saat itu, telah terbilang menjadi pengalaman yang pertama kalinya, ketika Jerman Barat dan Jerman Timur memutuskan untuk bersatu sejak tahun 1990 silam.

Pada gelaran Piala Dunia 2006 itu, juga terjadinya peristiwa baru. Untuk pertama kalinya, juara bertahan Piala Dunia tidak bisa otomatis lolos ke putaran final dan harus mengikuti kualifikasi, seperti negara-negara lainnya.

The German team pose together after the
The German team / NICOLAS ASFOURI/GettyImages

Tak hanya itu, format golden goal (tim dianggap memenangkan pertandingan apabila ada yang mencetak gol lebih dahulu di babak perpanjangan waktu) juga ditiadakan dan digantikan oleh Silver goal.

Melihat banyaknya perubahan yang dilakukan di Piala Dunia 2006, nampaknya telah membuat 32 negara yang berpartipasi harus melakukan adaptasi, termasuk Jerman yang bertindak sebagai tuan rumah.


1. Jerman Sapu Bersih Kemenangan di Babak Grup

Miroslav Klose
Germany - World Cup 2006 / Alex Livesey/GettyImages

Bertindak sebagai tuan rumah, Jerman otomatis harus menempati grup A bersama tiga negara lainnya, Ekuador, Polandia dan Kosta Rika.

Tim asuhan Jurgen Klinsmann yang kala itu diperkuat pemain-pemain seperti Michael Ballack, Miroslav Klose, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski sampai Philipp Lahm, tak mempunyai masalah berarti untuk lolos ke 16 besar.

Der Panzer yang nampak punya komposisi skuad lebih baik, mampu mencatatkan tiga kemenangan dan hanya kebobolan satu kali (saat bertemu Kosta Rika), serta mampu mencetak delapan gol.

Lolos sebagai juara grup dengan tanpa masalah berarti, Jerman pun akan menghadapi Swedia pada babak 16 besar.


2. Tensi Panas saat Menghadapi Argentina

Jens Lehmann - Soccer Goalkeeper, David Odonkor, Arne Friedrich, Tim Borowski
Germany v Argentina - The FIFA World Cup 2006 / Simon M Bruty/GettyImages

Berhasil mengalahkan Swedia di babak 16 besar dengan skor 2-0, Jerman harus menghadapi ujian berat saat mencapai perempat final yang harus hadapi timnas Argentina.

Betul saja, Der Panzer terlihat mengalami kesulitan untuk menembus lini pertahanan mereka yang dikawal oleh Juan Sorin dan Gabriel Heinze pada sisi tengah.

Bahkan, Jerman harus mengalami nasib buruk dengan melihat gawang Jens Lehmann kebobolan ketika Roberto Ayala, berhasil menyelesaikan umpan Javier Mascherano secara sempurna.

Sudah unggul 1-0, Argentina memang lebih bisa mendominasi pertandingan dan difavoritkan untuk lolos ke semifinal. Namun, Der Panzer yang tak kenal kata menyerah, serta mendapatkan dukungan dari suporternya sendiri mampu menyamakan kedudukan di menit-80.

Kala itu, Miroslav Klose yang mencatatkan namanya ke papan skor dan membuat laga harus ditentukan melewati drama adu penalti.

Dalam adu penalti sosok kiper Jerman, Jens Lehmann berhasil menjadi pahlawan kemenangan, dengan mengagalkan dua eksekutor Argentina yakni Ayala dan Esteban Cambiasso.

Lehmann, bisa menjalankan tugasnya secara baik bukan persoalan keberuntungan semata. Sebab, dirinya dianggap mendapatkan 'contekan' dari pelatih kiper saat itu, Andreas Koepke yang memberi tahu kebiasaan para pemain Argentina saat melakukan adu penalti.


3. Kalah di Semifinal dan Menjadi Juara Ketiga

Torsten Frings, Michael Ballack
Semi-final Germany v Italy - World Cup 2006 / Shaun Botterill/GettyImages

Harapan Jerman untuk menembus final seperti di Piala Dunia 2002, tidak bisa terjadi saat bermain sebagai tuan rumah. Italia mengagalkan harapan Der Panzer saat partai semifinal.

Kekalahan Jerman juga terlihat dramatis, karena sebelumnya banyak yang beranggapan jika kemenangan akan ditentukan melewati drama adu penalti, Gli Azzurri justru mampu mencetak dua gol di menit-menit akhir babak perpanjangan waktu dari Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero.

Meski kalah saat hadapi Italia, Der Panzer masih bisa mengakhiri turnamen Piala Dunia 2006 dengan wajah tersenyum, mengingat mereka mendapatkan medali Perunggu saat kalahkan Portugal dalam perebutan juara ketiga.


4. Italia Juara Piala Dunia untuk Keempat Kalinya

Fabio Cannavaro
Italy National Team / Alessandro Sabattini/GettyImages

Italia yang sudah menyingkirkan tuan rumah, Jerman di semifinal Piala Dunia 2006, nyatanya dapat menutup turnamen empat tahunan tersebut dengan hasil maksimal.

Ya, Gli Azzurri berhasil menyelesaikan turnamen Piala Dunia dengan menjadi juara usai mengalahkan juara di edisi 1998 lalu, Prancis melewati drama adu penalti lantaran sampai babak perpanjangan waktu papan skor tetap terlihat imbang 1-1.

Laga final antara Italia dengan Prancis, memang terbilang sebuah kejutan lantaran tak ada yang memprediksinya, setelah keduanya mendapati hasil buruk di tahun 2002 lalu.

Walau Italia berhak menjadi juara dunia, pemain terbaik justru diraih oleh Zinedine Zidane dan pemain muda terbaik diraih Lukas Podolski serta sepatu emas menjadi milik Miroslav Klose.

Italia hanya memiliki Gianluigi Buffon yang dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik dalam sepanjang ajang tersebut.


5. Kenangan dari Piala Dunia 2006

French midfielder Zinedine Zidane (L) re
Zinedine Zidane / ROBERTO SCHMIDT/GettyImages

Piala Dunia 2006 nampaknya mempunyai banyak sisi historis, seperti adanya tujuh negara debutan yakni Angola, Trinidad dan Tobago, Pantai Gading, Ghana, Republik Ceska, Ukraina, dan Serbia-Montenegro (sebelum berpisah).

Tak hanya itu, hal-hal menarik juga banyak terdapat dalam edisi 2006 ini. Salah satunya adalah insiden kesalahan wasit, Graham Poll yang memberikan tiga kartu kuning ke pemain Kroasia, Josip Simunic pada laga melawan Australia.

Selain hal tersebut, momen-momen krusial nampak lahir di Jerman saat Ronaldo Nazario yang kala itu, membuat catatan rekor baru sebagai pencetak gol terbanyak dalam sepanjang masa Piala Dunia (15 gol) usai mencatatkan namanya kontra Ghana.

Namun sepertinya momen yang takkan terlupakan bagi seluruh pecinta sepakbola adalah aksi kontroversial di laga final Italia melawan Prancis, ketika Zinedine Zidane harus diusir wasit pada laga terakhirnya sebagai pesepakbola saat menanduk Marco Materazzi.

Kala itu, provakasi yang dilontarkan Materazzi ke Zizou membuatnya tak bisa menahan emosi, sehingga memutuskan jalan pintas untuk 'menyakiti' bek Italia tersebut dan mengakhiri laga dengan kepala tertunduk.


facebooktwitterreddit