Liga Champions

Bagaimana Pengganti Peraturan FFP dari UEFA Dapat Memberi Dampak di Eropa

Dananjaya WP
Logo UEFA
Logo UEFA / Visionhaus/GettyImages
facebooktwitterreddit

UEFA (Asosiasi Sepakbola Eropa) disebut akan segera menerapkan peraturan finansial baru. FFP (Financial Fair Play) yang sudah digunakan sejak musim 2012/13 akan diganti. Perubahan ini diharapkan dapat memberi dampak signifikan terhadap pengeluaran yang dipandang berlebihan untuk rekrutmen pemain yang dilakukan berbagai klub besar Eropa.

Laporan dari New York Times memberi gambaran terhadap rencana UEFA mengenai peraturan finansial baru yang akan mereka terapkan. Berikut adalah penjelasan mengenai peraturan baru yang akan digunakan dan dampaknya terhadap kompetisi sepakbola di Eropa.


4. Kilas Balik Peraturan FFP

FBL-FRA-LIGUE1-MONACO-PSG
Pengeluaran transfer PSG menjadi salah satu aspek yang digunakan sebagai kritik terhadap FFP / CLEMENT MAHOUDEAU/GettyImages

Sebelum melihat peraturan baru, kita dapat melakukan kilas balik terhadap peraturan FFP yang digunakan selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir.

FFP membandingkan pengeluaran klub dari segi transfer pemain, tunjangan kepada staff dan pemain (termasuk gaji), amortisasi transfer, biaya finansial, dan dividen dengan penjualan tiket, pendapatan hak siar, komersial (sponsor), penjualan merchandise, penjualan aset tetap, keuangan, penjualan pemain serta uang hadiah dari kompetisi yang diikuti.

Terdapat delapan sanksi berbeda yang dapat diberikan kepada klub yang melanggar peraturan FFP. Sanksi diberikan berdasarkan besarnya pelanggaran yang dilakukan. Sanksi tersebut terdiri dari peringatan, denda, pengurangan poin, menahan pemberian pendapatan dari kompetisi UEFA, larangan untuk mendaftarkan pemain baru untuk kompetisi UEFA, batasan pendaftaran pemain baru untuk kompetisi UEFA, diskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung, hingga larangan tampil dalam kompetisi di masa depan.


3. Upaya UEFA Menetapkan Perubahan

Aleksander Ceferin, Thomas Tuchel
Aleksander Ceferin (kanan) mendapat kesulitan tinggi untuk menerapkan peraturan keuangan yang adil / Catherine Ivill/GettyImages

Aleksander Ceferin, Presiden UEFA, sudah berusaha dalam lima tahun terakhir untuk menetapkan peraturan batasan gaji di dalam kompetisi Eropa. Tetapi terdapat hambatan yang signifikan terkait peraturan ketenagakerjaan di Eropa, ditambah dengan perlawanan yang kuat dari cukup banyak pihak.

Pada akhirnya, peraturan yang ditetapkan cukup berbeda dengan apa yang selama ini direncanakan. Klub tidak dapat melakukan pengeluaran yang melewati 70% dari pendapatan yang mereka peroleh dalam satu musim (satu periode keuangan). Peraturan ini akan mulai diterapkan setelah melalui periode implementasi selama tiga tahun.

Peraturan ini akan masuk dalam buku peraturan UEFA setelah proses pemungutan suara yang akan dihadiri oleh seluruh anggota eksekutif direksi yang diadakan pada Kamis (7/4) waktu setempat. Peraturan ini akan diberi nama Financial Sustainability Regulations (FSR), atau Regulasi Finansial Berkelanjutan.

UEFA juga disebut dapat memberi kesempatan kepada klub – dalam kondisi tertentu – untuk melakukan pengeluaran sekitar 10 juta Dolar Amerika Serikat di atas rasio yang ditentukan. Izin dapat diberikan apabila klub yang bersangkutan memiliki neraca keuangan yang sehat dan tidak pernah melanggar peraturan sebelumnya.


2. Tiga Peraturan Penting dan Sanksi Progresif

Neymar Junior
Paris Saint-Germain v FC Lorient - Ligue 1 Uber Eats / Eurasia Sport Images/GettyImages

UEFA menetapkan tiga peraturan penting sebagai keseluruhan dalam Finansial Sustainability Rules yang menjadi pengganti dari FFP. Ketiga peraturan itu terdiri dari Larangan Telat Membayar (memastikan tagihan dibayar tepat waktu, diperiksa setiap empat bulan), Peraturan Pendapatan Sepak Bola (memberi izin klub untuk mencatatkan kerugian 60 juta Euro dalam waktu tiga tahun, sekaligus kerugian tambahan 10 juta Euro apabila kondisi finansial dipandang sehat), dan Peraturan Biaya Skuad (pengeluaran untuk transfer, gaji, dan biaya agen dibatasi menjadi 70% dari pendapatan klub, diperiksa dalam satu tahun, bukan satu musim).

UEFA juga menetapkan sanksi bagi pelanggar peraturan-peraturan tersebut bersifat progresif. Progresif di sini berarti sanksi yang diberikan akan menjadi lebih berat semakin sering pelanggaran dilakukan.


1. Kekhawatiran dan Kritik yang Dipelajari dari FFP

Riyad Mahrez
Pencatatan pendapatan Manchester City mendapat sorotan tinggi akibat dugaan pelanggaran peraturan keuangan / Alex Livesey - Danehouse/GettyImages

Salah satu aspek yang menjadi kritik utama dari penerapan FFP adalah adanya kesulitan untuk memberi sanksi yang sepadan terhadap klub-klub besar yang disebut melanggar peraturan ini. Manchester City (Liga Inggris) dan PSG (Ligue 1) menjadi dua klub besar di Eropa yang sering mendapat sorotan terkait hal ini.

Kedua klub itu mendapat investasi besar dari negara-negara di Timur Tengah (Uni Emirat Arab dan Qatar). Man City dan PSG juga mendapat investasi melalui kesepakatan sponsor dari perusahaan-perusahaan yang berasal dari kedua negara tersebut.

Kesepakatan sponsor seperti ini disorot akibat adanya dugaan pencatatan pendapatan yang lebih tinggi dari nilai pasar yang dipandang wajar.

Sesuai dengan peraturan baru, UEFA memiliki hak untuk memberi sanksi yang berkaitan dengan kondisi di dalam lapangan dan juga sanksi finansial. Sanksi yang dapat diberikan meliputi denda, ancaman untuk dikeluarkan dari kompetisi, dan sanksi baru berupa degradasi ke tingkat kompetisi yang lebih rendah (turun dari Liga Champions ke Liga Europa).

UEFA juga berpotensi memberi pengurangan poin terhadap klub pelanggar yang berada di klasemen yang akan dibuat setelah format baru Liga Champions dan Liga Europa digunakan mulai dari 2024.

Sementara kekhawatiran terhadap peraturan baru ini dapat dilihat dari Serie A dan La Liga. Klub-klub di Italia cukup sering mengalami kesulitan untuk mempertahankan pengeluaran mereka untuk tidak melewati batas 70% dari pendapatan yang akan diterapkan.

La Liga juga mendapat sorotan akibat kegagalan FC Barcelona memperpanjang kontrak Lionel Messi pada musim panas lalu. Klub yang bermarkas di Camp Nou itu juga memiliki tingkat utang yang tinggi (begitu pula dengan Real Madrid, tetapi kondisi keuangan mereka relatif lebih baik).

Klub-klub Liga Inggris dipandang dapat bertahan dalam peraturan ini, mengingat tingkat pendapatan yang tinggi dari pendapatan hak siar asing dan pendapatan komersial yang berada di atas kompetisi-kompetisi lainnya di dunia.

facebooktwitterreddit