Bagaimana Mikel Arteta Membawa Arsenal Menjadi Kandidat Juara Liga Inggris 2022/23

Mikel Arteta membuat Arsenal kembali menjadi kandidat kuat juara Liga Inggris 2022/23
Mikel Arteta membuat Arsenal kembali menjadi kandidat kuat juara Liga Inggris 2022/23 / Shaun Botterill/GettyImages
facebooktwitterreddit

Peran Mikel Arteta disebut yang paling krusial dalam membawa Arsenal memuncaki klasemen Liga Inggris 2022/23 hingga pekan ke-21. The Gunners kini memimpin 5 dan 11 poin dari tiga tim di bawah mereka dengan masih menggenggam satu laga di tangan. Apa yang sudah dilakukan Mikel Arteta hingga Arsenal kembali menjadi kandidat juara Liga Inggris 2022/23?

Saat pria Spanyol itu ditunjuk menjadi pelatih Arsenal pada Desember 2019, rasa-rasanya tak akan banyak yang percaya ia akan mampu membawa tim yang sudah lama tertidur itu untuk kembali bangkit. Saat didapuk menjadi juru taktik Arsenal, pengalaman Mikel Arteta 'hanyalah' menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City.

Kini, Arsenal dengan nyaman duduk di posisi pertama Liga Inggris 2022/23 dengan torehan 50 poin dari 19 laga. Sebuah catatan yang pada momen-momen sebelumnya diraih tim lain, nyaris selalu berakhir dengan titel juara. Arsenal, dengan performa mereka saat ini, sepertinya tak akan menjadi tim yang menodai catatan tersebut.


Apa Saja yang Sudah Dilakukan Mikel Arteta untuk Membawa Arsenal Jadi Calon Juara Liga Inggris Musim Ini

Arteta Meminta Arsenal Membeli Dua Pemain Juara

Arsenal lebih dikenal sebagai tim yang selalu ingin berinvestasi jangka panjang dengan membeli pemain-pemain muda. Namun, pada bursa transfer musim panas lalu, Mikel Arteta menuntut pemilik The Gunners untuk mendatangkan dua pemain yang sudah berpengalaman.

Mereka adalah Gabriel Jesus dan Oleksandr Zinchenko yang sama-sama dibeli dari Manchester City. Kedatangan mereka tak hanya membawa dampak di atas lapangan, tetapi juga di ruang ganti.

Zinchenko mengklaim bahwa di awal kedatangannya ia meminta rekan-rekan barunya di Emirates untuk berhenti berpikir menempati posisi empat besar dan mulai fokus meraih titel. Mengingat sudah nyaris dua dekade yang lalu The Gunners mengangkat trofi Liga Inggris, ceramah Zinchenko itu disambut tawa oleh beberapa pemain.

Sementara itu, Gabriel Jesus menjadi senjata baru di lini depan dan juga memiliki karakter yang kuat di dalam skuad, sesuatu yang diakui sendiri oleh bintang muda Bukayo Saka.

Saat pembelian pemain-pemain muda mengundang pujian karena dinilai sebagai sebuah kebijakan yang bermoral, orang-orang lupa bahwa membeli pemain dengan predikat bintang dan juara bisa membentuk mentalitas yang istimewa dalam tim, termasuk menularkan mentalitas serupa ke para pemain muda.


Mikel Arteta Adalah Pelatih yang Bijaksana

Saat Antonio Conte mempopulerkan kembali formasi tiga bek tengah saat membawa Chelsea menjuarai Liga Inggris 2016/17, segera sistem tersebut kembali diterapkan oleh banyak tim besar dengan skuad yang melimpah dan kaya atribut.

Arteta memahami bahwa dia tak perlu ikut mempraktekkan formasi tiga bek tengah karena tahu bahwa skuadnya tidak cukup mumpuni untuk mengikuti tren tersebut. Meskipun pada dasarnya penggunaan tiga bek dan dua wing bek sebenarnya menciptakan permainan yang lebih bertahan ketimbang menyerang, prinsip peran wing bek dalam formasi tersebut menuntut pemahaman yang sangat dalam dan akan sangat sulit untuk menanamkan pemahaman itu ke skuad yang lebih banyak diisi pemain muda.

Arteta bersikukuh menggunakan empat bek normal dengan satu gelandang bertahan, Thomas Partey, untuk melapis lini belakang. Gabriel dan William Saliba membentuk kerja sama yang rapi di jantung pertahanan, Ben White dan Zinchenko sebagai full back kerap membantu Partey membangun serangan dari belakang. Kombinasi para pemain ini menghasilkan pertahanan yang kokoh yang baru kebobolan 16 gol sejauh ini, catatan kedua terbaik di liga hingga pekan ke-21.


Tidak Bereaksi Berlebihan Terhadap Suara-Suara Sumbang

Arteta jelas diremehkan di awal kepelatihannya dan kondisi tim London Utara juga tidak baik-baik saja dengan suporter. Kondisi terakhir yang disebutkan, merujuk pada perseteruan antara Granit Xhaka dan suporter Arsenal dua bulan sebelum kedatangan Arteta.

Pemain gelandang tersebut diejek saat timnya menghadapi Crystal Palace pada Oktober 2019 dan perseteruan itu terus memanas hingga musim lalu, saat Xhaka mengaku dia tak akan pernah bisa menjalin hubungan baik lagi dengan pendukung Arsenal.

Arteta secara mengejutkan tidak pernah menyerah pada Xhaka dan terus memercayakan satu posisi di lini tengah untuknya. Kepercayaan itu terbukti lunas dengan performa Xhaka yang cukup memukau di musim ini.

Dari caranya menangani masalah Xhaka dengan suporter Arsenal, Arteta bisa dibilang sosok berkepala dingin. Selain itu, eks gelandang Everton itu juga tampak tidak sedikit pun terusik ketika menerima kritikan keras dari banyak pihak. Pengalamannya yang tidak terlalu panjang bersama Pep Guardiola di Manchester City terbukti sangat berharga membentuk kualitasnya sebagai seorang pelatih saat ini.


Arteta Sudah Mempelajari Kekuatan Arsenal Sejak Lama

Saat membaca poin ini, mungkin yang terlintas di benak pembaca adalah Arteta sudah mengetahui seluk beluk Arsenal karena dia merupakan mantan pemain di klub tersebut. Namun, faktanya maksud dari poin ini adalah Arteta sudah ditunjuk oleh Pep Guardiola sebagai pengamat utama Arsenal semenjak dia menjadi asisten pelatih Arsenal.

Tugas itu mulai diberikan Guardiola pada musim 2017/18 dan hal ini diketahui dari dokumenter yang diproduksi Amazon berjudul All or Nothing untuk edisi kepelatihan Guardiola di Manchester City. Pada dokumenter tersebut Guardiola memberikan tanggung jawab khusus pada Arteta untuk mengamati semua aspek kekuatan Arsenal. Jika dijumlahkan, ada enam pertemuan yang terjadi pada musim 2017/18 dan 2018/19 (sebelum Arteta menjadi pelatih Arsenal pada 20 Desember 2019) antara Arsenal dan Manchester City. Luar biasanya, dalam enam pertemuan tersebut, Manchester City selalu menang.