Meraih popularitas dan menembus tim utama sebuah klub papan atas adalah impian semua orang, namun, hanya sedikit yang beruntung bisa menggapainya. Di Jerman, bisa dipastikan hampir semua anak muda ingin bergabung dengan Bayern Munchen. Klub berjuluk FC Hollywood tersebut menjanjikan limpahan gelar dan popularitas bagi para pemainnya.


Sayang, harga yang harus dibayar untuk bisa bermain reguler bersama klub sekelas Bayern sangatlah berat. Kendati cukup sering mempromosikan pemain-pemain yunior, namun persaingan ketat di skuat inti, membuat banyak pemain memutuskan mencari peruntungan di tempat lain.


Berikut enam nama mantan pemain muda Die Roten yang kini relatif sukses  setelah mengadu nasib di klub lain.


Holger Badstuber

Holger Badstuber

Memulai daftar ini, ada nama mantan pemain muda favorit di Allianz Arena, Holger Badstuber. Kisah pemain yang berposisi sebagai bek tengah ini cukup menyedihkan. Dipromosikan dari tim yunior pada 2009, berbarengan dengan Thomas Muller, Badstuber menunjukkan performa menjanjikan.


Dia didaulat sebagai bek utama Bayern musim 2009/10, dan sempat bermain final Liga Champions musim tersebut kontra Inter Milan. Penampilannya juga membuat dirinya dibawa ke Piala Dunia 2010 bersama Timnas Jerman. 


Sayangnya, cedera berkelanjutan yang dia cedera sejak musim 2011/12, membuat dirinya tidak bisa mengembangkan karier. Dia bertahan di Bayern hingga Januari 2017, sebelum akhirnya setuju dipinjamkan ke Schalke 04. Hanya enam bulan di Veltins Arena, Badstuber resmi mengucapkan selamat tinggal kepada Bayern pada Agustus 2018 dengan bergabung ke klub masa kecilnya, Stuttgart.


Bersama klub Bundesliga 2 tersebut, Badstuber kembali menemukan permainannya dan hingga kini sudah bermain di 57 laga, serta mematenkan dirinya sebagai bek tengah utama tim.


Nicola Sansone

Nicola Sansone

Satu-satunya pemain non-Jerman di daftar ini, sedikit yang tahu bahwa Sansone muda pernah menjadi bagian dari Bayern Munchen. Dia memperkuat semua level usia hingga masuk ke Bayern Munchen II pada Juli 2010. Sayangnya, setahun bersama Bayern Munchen II, sosok winger kiri ini justru dilepas secara gratis ke Parma.


Semenjak itu, dirinya berpetualang ke berbagai klub, umumnya di Serie A. Dia sempat menjadi idola publik kala memperkuat Sassuolo (2014-2016) dan Villarreal (2016-2019). Kini dirinya berstatus pemain Bologna sejak musim panas 2019, dan sudah mencatatkan empat gol dan empat assist dari 23 laga timnya. 


Philip Max

Philipp Max

Membicarakan Augsburg, tidak banyak pemain konsisten atau bintang di klub Bundesliga tersebut. Namun, satu nama yang paling menonjol adalah wing back andalan mereka, Philip Max. Bergabung dengan Augsburg dari Karlsruher FC pada musim panas 2015, Max sejatinya adalah hasil didikan Bayern Munchen.


Bergabung dengan tim yunior Die Roten sejak 2007, nasib Max sama dengan Sansone. Dia hanya mencapai Bayern U17, sebelum dilepas permanen ke Schalke U19 pada 2010. Nasib serupa juga menimpanya di Schalke, dia hanya bermain untuk Schalke II, dan kemudian dilego ke tim Bundesliga 2, Karlsruher FC pada Juli 2014.


Tampil 26 kali bersama Karlsruher musim 2014/15, cukup untuk menarik minat Augsburg merekrutnya ke WWK Arena pada Agustus 2015 dengan mahar 3,8 juta euro. Sejak saat itu, Max dipercaya untuk menempati pos bek kiri, dan sudah tampil di 148 laga. Dia juga cukup produktif dengan torehan 14 gol dan 28 assist, hebatnya, tujuh dari gol-gol tersebut, dia cetak di musim 2019/20 ini.


Mats Hummels

Mats Hummels

Sosok satu ini bisa dibilang 'inkonsisten', bagaimana tidak, dia memulai kariernya bersama tim muda Bayern sejak level akademi hingga dipromosikan ke tim senior pada 2007. Namun, minimnya kesempatan membuatnya hengkang ke Borussia Dortmund pada Januari 2008.


Seperti yang kita ketahui, Hummels dipercaya penuh oleh Die Borussen, dan membawa klub meraih kesuksesan, termasuk dua gelar Bundesliga musim 2010/11 dan 2011/12, serta menembus final Liga Champions 2012/13. 


Kendati sering menyuratkan kebencian terhadap mantan klubnya, dia justru memutuskan bergabung kembali ke Allianz Arena pada musim panas 2016. Namun, setelah 118 laga dan raihan tiga titel Bundesliga, mantan bek Timnas Jerman ini 'balik kucing' untuk hengkang ke Borussia Dortmund di musim panas 2019.


Saat ini dirinya tetap tidak tergantikan di lini pertahanan anak asuh Lucien Favre. Dia sejauh ini tampil di 23 laga bagi klubnya, serta menjadi mentor bagi dua bek muda Dortmund, Manuel Akanji dan Dan-Axel Zagadou.


Emre Can

Emre Can

Bisa bermain di seluruh lini tengah, maupun sebagai bek dadakan, sosok Can sejatinya memiliki masa depan cerah bersama Bayern. Produk akademi Eintrach Frankfurt ini bergabung dengan tim Bayern U17 pada 2009 kala usianya baru 14 tahun. Dia pun menunjukkan bakatnya, dan sudah dirpomosikan ke tim senior di usia 17 tahun pada 2012.


Kendati di musim itu Bayern memenangi treble, dirinya kalah saing dengan duet Bastian Schweinsteiger dan Javier Martinez, yang membuatnya hengkang secara permanen ke Bayer Leverkusen pada Agustus 2013. Kepindahan itu ternyata tepat, karena konsistensinya bersama Die Werksef membuka pintu baginya untuk hijrah ke Liga Primer Inggris bersama Liverpool pada Juli 2014.


Sayangnya, karier menjanjikannya di Anfield meredup di musim 2017/18, yang membuatnya memutuskan hengkang ke Juventus. Di Turin nasibnya pun tidak membaik. Meski mencatatkan 45 penampilan, dirinya tidak pernah mempermanenkan posisi di lini tengah anak asuh Maurizio Sarri.


Kini, dirinya sudah kembali ke Bundesliga bersama Borussia Dortmund sejak Januari 2020, dan sedang menikmati permainan terbaiknya. Bersama Axel Witsel, pemain 26 tahun ini kini menjadi jenderal lini tengah dari Lucien Favre, dan sudah bermain di delapan laga sejak kedatangannya.


Toni Kroos

Toni Kroos

Kepergian gelandang Timnas Jerman ini mungkin menjadi penyesalan terbesar bagi kubu Bayern. Menimba ilmu di akademi Hansa Rostock, Kroos muda bergabung dengan Bayern U19 pada Juli 2006 di usia 16 tahun, dan meraih promosi ke tim utama hanya setahun kemudian.


Kesulitan bersaing, Kroos menunjukkan kapabilitasnya ketika menjalani masa peminjaman bersama Bayer Leverkusen. Satu setengah musim di Bay Arena sejak Januari 2009 hingga Juni 2010, Kroos tampil di 48 laga dan membawa Leverkusen bersaing di papan atas melalui torehan 10 gol dan 13 assist.


Benar saja, pasca kembali ke Allianz Arena, Kroos langsung dipercaya menjadi playmaker utama tim. Bersama Jupp Heynckes, dirinya mencapai puncak kariernya di Bayern kala memenangi treble musim 2012/13.  Sayangnya, negosiasi kontrak yang menemui jalan buntu, membuat Bayern melepas Kroos ke Real Madrid dengan harga 'hanya' 25 juta euro saja pada Juli 2014.


Harga itu jelas terlalu murah, seperti yang kita ketahui, Kroos mencetak sejarah bersama Madrid dengan membawa anak asuh Zinedine Zidane meraih tiga gelar Liga Champions secara beruntun. Hingga kini, posisi Kroos tidak tergantikan di lini tengah El Real dan sudah mencatatkan 266 laga dengan 18 gol serta 68 assist.