​Atalanta memberikan gebrakan di Liga Champions 2019/20 sebagai tim debutan. Wakil Serie A tersebut sudah menginjakkan satu kaki mereka di perempat final setelah secara mengejutkan berhasil menghajar wakil La Liga, Valencia, dengan skor 4-1 di leg pertama 16 besar pada 20 Februari lalu. 


Namun Atalanta bukan satu-satuya tim yang berhasil membuat kejutan besar di arena Liga Champions, setidaknya dalam dua dekade terakhir. Setidaknya ada 12 tim yang mampu memutarbalikkan prediksi  dalam turnamen terelit antar klub Eropa tersebut. 


Berikut adalah 10 tim yang berhasil menciptakan kejutan terbesar di arena Liga Champions dalam dua dekade terakhir: 


1. FC Porto (2003/04)

FC Porto's Benni McCarthy (top L) and Ca

Sejak format Liga Champions diterapkan pada 1994, sepertinya tak ada kejutan terbesar yang melebihi keberhasilan FC Porto meraih trofi Big Ear pada edisi 2003/04. Dibintangi Deco, Benni McCarthy, Paulo Ferreira, dan juga Thiago FC Porto sukses menggemparkan Eropa.


Mengalahkan sesama tim kejutan lainnya, AS Monaco, di final, pelatih FC Porto kala itu adalah Jose Mourinho yang kini membesut Tottenham Hotspur. Itu merupakan trofi Liga Champions pertama Mourinho dalam karier kepelatihannya.


2. AS Monaco (2003/04 dan 2016/17)

FBL-FRA-LIGUE1-LYON-MONACO

Setelah secara mengejutkan tampil di final edisi 2004, AS Monaco sepertinya bakal mengulang pencapaian serupa tatkala lolos ke semifinal edisi 2016/17. 


Monaco yang saat itu berada di bawah kepelatihan Leonardo Jardim mendapatkan banyak pujian karena menumpukan kekuatan timnya pada beberapa pemain muda. Salah satu pemain muda yang dimaksud adalah berlian asal Prancis, Kylian Mbappe. 


Sayangnya AS Monaco gagal lolos ke final setelah takluk 4-1 secara agregat dari wakil Italia, Juventus.


3. Valencia (1999/2000 dan 2000/2001)

Carsten Jancker, Santiago Canizares

Valencia mungkin bisa disebut sebagai tim yang paling tidak beruntung dalam daftar ini mengingat merkea berhasil menembus final dalam dua kesempatan beruntun namun gagal mengangkat trofi Liga Champions. 


Kesempatan pertama datang pada edisi 1999/2000 saat mereka harus menghadapi tim senegara, Real Madrid. El Che yang dibesut Hector Cuper menyerah 3-0 dalam final di Prancis. 


Setahun berselang, masih di bawah Cuper, El Che kembali kandas. Kali ini di tangan wakil Jerman Bayern Munchen dan dengan perlawanan yang lebih alot karena laga harus diselesaikan melalui adu penalti.


 4. Liverpool (2004/05)

Liverpool team captain Steven Gerrard (L

Klub bermarkas di kota Anfield ini secara mengejutkan berhasil menembus final edisi 2004/05 di bawah kepelatihan Rafael Benitez dan berakhir sebagai juara setelah menaklukkan AC Milan melalui adu penalti di final. 


Laga final yang dihelat di Istanbul menjadi salah satu laga final Liga Champions paling dramatis sepanjang sejarah setelah The Reds berhasil mengejar ketertinggalan 0-3 di babak pertama untuk mamaksa Milan mengakhiri laga dengan adu penalti.


5. Inter Milan (2009/10)

Inter Milan players celebrate with the t

Jose Mourinho sepertinya lekat dengan prestasi membawa klub underdog berjaya di Eropa. Inter Milan tak terlalu difavoritkan melangkah ke final saat berjumpa Barcelona di babak semifinal. 


Namun Javier Zanetti dkk berhasil mematahkan prediksi populer dan tampil penuh percaya diri di final untuk menaklukkan Bayern Munchen 2-0 lewat dua gol Diego Milito.


6. Schalke (2010/11)

Manchester United's Scottish midfielder

Jika Bayern nyaris selalu mewakili Bundesliga di babak-babak krusial Liga Champions, edisi 2010/11 menjadi milik Schalke. 


Diperkuat eks pemain Real Madrid Raul Gonzales, Schalke menembus semifinal untuk berjumpa dengan Manchester United. Sayangnya mimpi Schalke harus berhenti sampai di situ setelah mereka tak berdaya di tangan Manchester United yang meraih kemenangan agregat 6-1.


7. Chelsea (2011/12)

Chelsea's players celebrate after the UE

Perjalanan Chelsea meraih trofi Big Ear pertama mereka sangat terjal, terutama ketika mereka harus berhadapan dengan Barcelona besutan Pep Guardiola di babak semifinal. 


Berhasil membuat kejutan dengan menyingkirkan Barca, The Blues ditunggu Bayern Munich di final yang dihelat di markas Die Roten, Allianz Arena. 


Setelah bermain imbang 120 menit, Chelsea akhirnya keluar sebagai juara melalui adu penalti dengan Didier Drogba menjadi eksekutor penentu kemenangan mereka.


8. Borussia Dortmund (2012/13)

Robert Lewandowski,Kevin Grosskreutz

Setelah Schalke, giliran Borussia Dortmund yang menunjukkan pada dunia sepak bola bahwa Jerman tak hanya memiliki Bayern Munchen. Dortmund yang kala itu dilatih Jurgen Klopp sukses melangkah hingga ke final. 


Sayangnya langkah mereka di final dijegal Bayern Munchen yang saat itu bertekad besar menebus kekecewaan setahun sebelumnya dengan skor 1-2. 


9. Atletico Madrid (2013/14, 2015/16, dan 2016/17)

Yannick Ferreira Carrasco,Marcelo Vieira Da Silva

Atletico Madrid belum pernah mengangkat trofi Big Ear dalam sejarah klub mereka namun di bawah kepemimpinan pelatih Diego Simeone yang kharismatik, Los Rojiblancos berkali-kali mendekati si Kuping Besar. 


Mereka memiliki kesempatan untuk meraih trofi Liga Champions pada edisi 2013/14 dan 2015/16 saat menembus final dan 2016/17 saat melangkah hinga ke semifinal. Namun dalam ketiga kesempatan tersebut misi Atletico digagalkan oleh lawan yang sama, yang sekaligus rival sekota mereka, Real Madrid.


10. AS Roma (2017/18)

Edin Dzeko

AS Roma mengejutkan penikmat Liga Champions saat mereka berhasil menghempaskan Barcelona di babak perempat final edisi 2017/18. 


Harapan untuk melaju ke semifinal awalnya tampak tipis ketika Serigala Roma besutan Eusebio Di Francesco kalah -4 di Camp Nou. Namun tanpa banyak yang menduga mereka mengamuk di Olimpico dan meraih kemenangan 3-0 untuk lolos berkat aturan gol tandang.


Sayangnya di semifinal langkah mereka dihentikan Liverpool.


11. Ajax Amsterdam (2018/19)

Dusan Tadic,Daley Sinkgraven,Noussair Mazraoui

Pasukan muda Erik Ten Hag menunjukkan taringnya musim 2018/19 dengan keberhasilan mereka melaju hingga ke babak semifinal tanpa diprediksi banyak pihak. 


Meski akhirnya ditaklukkan Tottenham Hotspur melalui aturan gol kandang (aggregat: 3-3), kebintangan para pemain muda Ajax menarik perhatian hingga pemain seperti Frenkie de Jong dan Matthijs de Ligt direkrut dua klub top Eropa, Barcelona dan Juventus.


12. Tottenham Hotspur (2018/19)

Heung-Min Son

Mauricio Pochettino membuat sejarah untuk The Lilly Whites dengan menjadi pelatih pertama yang berhasil membawa Spurs melaju ke final Liga Champions 2018/19. 


Perjalanan Spurs menuju final tidaklah mudah dengan mereka harus menjalani laga-laga dramatis menghadapi Manchester City dan Ajax Amsterdam di babak perempat final dan semifinal. Spurs bahkan nyaris tak lolos dari babak fase grup setelah hanya meraih satu poin dari tiga laga pertama mereka. 


Sayangnya perjuangan heroik itu berakhir anti klimaks di malam final saat mereka tampil melempem dan ditaklukkan 0-2 oleh sesama tim Liga Primer Inggris, Liverpool.