​Seperti yang diprediksikan sebelumnya, Chelsea tak banyak berdaya menghadapi raksasa Bundesliga Bayern Munchen pada leg pertama 16 besar Liga Champions 2019/20. Kemenangan telak 0-3 seakan membuat satu kaki Die Roten sudah berada di babak delapan besar.


Berikut adalah lima poin dari laga leg pertama 16 besar Liga Champions antara Chelsea dan Bayern Munchen di Stamford Bridge pada dini hari tadi. 


1. Formasi 3-4-3 Chelsea Sebenarnya Bisa Meredam Ancaman Die Roten

Benjamin Pavard,Marcos Alonso o

Pelatih Chelsea Frank Lampard kembali memasang formasi 3-4-3 yang dia gunakan saat timnya mengalahkan Tottenham Hotspur 1-2 akhir pekan lalu. Meski dalam laga ini para wing back Chelsea, Marcos Alonso dan Cesar Azpilicueta, cenderung tidak terlalu agresif untuk menyerang, mereka tampil disiplin mengisi ruang di sekitar kotak penalti mereka. 


Dengan total tujuh pemain membangun blok rendah, serangan Bayern kerap kandas di sepertiga akhir lapangan karena pemain Chelsea tampak memenuhi zona tersebut. Lampard sepertinya menggunakan formasi ini untuk tujuan yang berbeda ketika melawan Spurs, di mana mereka memanfaatkan kelemahan bek tengah dan full back Spurs dengan terus menghajar dari sisi sayap. 


Sementara fungsi 3-4-3 saat menghadapi Bayern kali ini cenderung untuk menciptakan rasa aman di lini pertahanan mereka karena secara kualitas, materi pemain, dan pengalaman Bayern jelas berada di atas Spurs. Setidaknya hingga babak pertama berakhir.


2. Serangan Bayern yang Lebih Langsung Menjadi Kuncinya

Robert Lewandowski,David Alaba

Ketangguhan lini pertahanan Chelsea akhirnya roboh juga pada awal babak kedua. Tidak seperti babak pertama ketika serangan Bayern lebih banyak melibatkan aliran umpan-umpan pendek cepat, variasi serangan langsung coba diterapkan untuk membongkar pertahanan tuan rumah dan dua gol menjadi hasilnya. 


Kedua gol Bayern yang diciptakan oleh Serge Gnabry pada menit ke-51 dan 54 menunjukkan bahwa permainan langsung bisa meruntuhkan pertahanan The Blues. Terutama pada gol kedua Die Roten yang hanya membutuhkan empat umpan sebelum bola bersarang ke gawang Willy Caballero. 


Permainan langsung tentunya bukan menjadi satu-satunya kunci dari kedua gol tersebut. Sepanjang laga pemain Bayern memang menunjukkan level kualitas yang berbeda dari lawan mereka. itu terlihat dari bagaimana aliran bola di antara pemain mereka begitu lancar, akurasi umpan yang mengesankan, dan ketenangan saat serangan mereka membentur tembok Chelsea. Benar adanya jika ada yang menyebut bahwa Bayern Munchen adalah lawan terberat Chelsea musim ini.


3. Tanpa Jorginho, Tanpa Marcos Alonso, Tanpa Harapan di Leg Kedua? 

Marcos Alonso

Takluk 0-3 di kandang sendiri dan harus kembali berhadapan dengan tim sekelas Bayern di hadapan pendukung mereka tentu akan menjadi tugas berat bagi Frank Lampard dan para pemainnya untuk bisa membalikkan keadaan. 


Skor akhir di Stamford Bridge bukan satu-satunya faktor yang bisa mengakhiri perjalanan The Blues di Liga Champions musim ini. Pasalnya mereka juga tak akan diperkuat oleh Jorginho yang menerima hukuman akumulasi kartu dan Marcos Alonso yang mendapatkan kartu merah di laga ini. 


Dengan kemungkinan belum pulihnya N'Golo Kante saat leg kedua digelar, praktis Frank Lampard hanya memiliki satu gelandang berpengalaman dalam diri Mateo Kovacic. Posisi Alonso mungkin bisa digantikan pemain lain, namun dengan pemahaman bahwa formasi 3-4-3 merupakan formasi kunci Chelsea saat menghadapi tim-tim yang spesial dan Alonso merupakan bek yang paling terlatih dalam formasi ini, Lampard jelas dalam kesulitan besar untuk bisa meraih kemenangan di Allianz Arena.


4. Kolektivitas Bayern Munchen yang Layak Dikagumi

Robert Lewandowski

Ada alasan mengapa meski hanya meraih satu trofi Liga Champions pada satu dekade terakhir, Bayern memiliki pencapaian yang cukup konsisten dari musim ke musim. Selama ini anggapan yang banyak beredar adalah Bayern begitu dominan di Bundesliga karena tak memiliki rival yang cukup tangguh untuk menjegal dominasi mereka. 


Anggapan itu bisa dibilang ada benarnya, tapi kejayaan Bayern tidak diraih karena kelemahan tim lawan semata. Die Roten benar-benar menunjukkan ambisi yang kuat untuk memiliki gaya permainan dan pemain yang berkualitas. Tingkat kolektivitas mereka di Stamford Bridge begitu istimewa, tak nampak satu pun pemain yang terlalu individualis, semua bekerja untuk satu sama lain, dan itu bisa terlihat dari bagaimana ketiga gol mereka tercipta. 


Di sisi lain Chelsea bukannya tak memiliki semangat kolektif tersebut hanya saja, sekali lagi, kualitas para pemain tim London Barat itu secara keseluruhan masih jauh di bawah tamu mereka.


5. Terkaparnya Para Wakil Inggris di Leg Pertama 16 Besar 

FBL-EUR-C1-CHELSEA-BAYERN

Chelsea menjadi wakil Liga Primer Inggris ketiga yang takluk di leg pertama 16 besar Liga Champions musim 2019/20 ini. Sebelumnya ada Liverpool yang dibekuk Atletico Madrid 0-1 di Wanda Metropolitano dan Spurs yang takluk 0-1 di kandang mereka sendiri. Sementara Manchester City baru akan bertanding menghadapi Real Madrid pada Kamis (27/2) dini hari WIB. 


Setelah menunjukkan dominasi yang signifikan di kompetisi Eropa musim lalu, bisa jadi dominasi itu bakal tereduksi musim ini. Di antara ketiga tim Inggris yang sudah bertanding, dilihat dari kualitas, kesiapan skuat, dan skor di leg pertama, mungkin hanya Liverpool yang masih berkesempatan lolos. Namun dengan dua kekalahan yang sudah mereka derita di turnamen ini (yang pertama dari Napoli di fase grup), Liverpool bisa jadi akan kesulitan mempertahankan gelarnya.