​​Chelsea membuat kejutan besar tak terduga dalam periode jeda musim dingin mereka sebelum berhadapan dengan Manchester United pada awal pekan depan. Klub London Barat itu resmi ​merekrut gelandang brilian Ajax Amsterdam asal Maroko, Hakim Ziyech, dengan nilai transfer mencapai 40 juta euro. 


Setelah gagal mendapatangkan pemain pada bursa transfer musim dingin Januari 2020 lalu, ​Chelsea tampaknya tak mau mengulangi kesalahan besar mereka. Perekrutan Hakim Ziyech jauh hari sebelum bursa transfer musim panas dibuka pada Juni mendatang adalah langkah yang bisa dibilang tepat. 

Pergerakan The Blues sepanjang Januari 2020 lalu memang mengundang banyak tanda tanya dan kritik. Pasalnya setelah susah payah melakukan banding untuk memotong masa larangan transfer yang awalnya diterapkan pada dua jendela transfer menjadi hanya satu jendela transfer, The Pensioners malah tak mendatangkan satu pemain pun Januari lalu. Padahal Chelsea diketahui melakukan pendekatan kepada sejumlah pemain seperti Dries Mertens, Jadon Sancho, Wilfried Zaha, dan Edinson Cavani untuk menjadi tambahan amunisi skuat London Barat. Namun tak satu pun yang akhirnya mendarat di Stamford Bridge. 


Spekulasi yang beredar mengindikasikan bahwa ada ada ketidaksinkronisasian perencanaan pembelian pemain antara dewan klub dengan pelatih Chelsea, Frank Lampard. Keputusan pemotongan masa larangan transfer yang baru dijatuhkan pada awal Desember 2019 mungkin bisa menjadi penyebab hal tersebut. Chelsea hanya punya waktu tiga pekan untuk membuat rencana pembelian pemain sebelum jendela transfer musim dingin dibuka. Namun semua rencana itu tampak tidak pasti, jadi tak mengherankan jika sudah banyak suporter yang memperkirakan klub kesayangan mereka tak bakal mendatangkan pemain sebelum tenggat waktu tiba.


Karena dibeli di luar masa transfer, Hakim Ziyech pun tak mungkin langsung memperkuat The Blues. Pemain berusia 26 tahun itu baru akan memperkuat si Biru pada musim 2020/21 mendatang. 


Dengan kegagalan mendatangkan pemain baru pada Januari lalu dan tim-tim rival yang berebut posisi empat besar malah sukses mendatangkan sejumlah talenta hebat seperti Bruno Fernandes (Manchester United) dan Steven Bergiwjn (Tottenham Hotspur), tak salah pula jika Lampard menyebut timnya kini menjadi underdog dalam perebutan posisi empat besar. Performa inkonsisten The Blues dalam tiga bulan terakhir seharusnya bisa menjadi pemicu utama untuk bisa menyegarkan skuat dengan kedatangan para pemain baru yang bisa memberikan solusi dari permasalahan yang sedang dialami Chelsea di atas lapangan saat ini. 


Namun pembelian Hakim Ziyech bukan berarti tak memiliki arti apa pun untuk Chelsea. Jika penilaian Frank Lampard kemudian ada benarnya, bahwa The Blues akhirnya malah terlempar dari zona empat besar dan gagal mendapatkan tiket ke Liga Champions musim depan, itu akan menunjukkan bahwa Chelsea tak bisa menjawab permasalahan mereka dan kedatangan Zyech akan semakin berarti. 


Salah satu permasalahan dalam skuat Chelsea saat ini adalah minimnya ragam kreativitas serangan yang mereka miliki untuk melukai pertahanan lawan. Chelsea memang menciptakan banyak peluang yang gagal mereka konversi, namun skema mereka memang kerap mudah ditebak lawan saat memasuki sepertiga akhir lapangan. Tammy Abraham tak lagi leluasa mencari ruang di kotak penalti, sementara satu-satunya gelandang serang yang dimiliki klub London Barat itu, Mason Mount, juga kian minim kontribusinya. 


Dari 10 gelandang asli Inggris yang berhasil menciptakan peluang dari permainan terbuka, Mount hanya berada di posisi nomor 9 dengan 19 kreasi peluang. 


Chelsea pun akhirnya banyak mengandalkan akurasi umpan silang Reece James sebagai salah satu pemasok bola ke kotak penalti, yang kebanyakan gagal menemui Abraham karena sang penyerang tak bisa lagi mencuri ruang. Permainan Chelsea semakin terlihat monoton saat skema membangun serangan mereka lebih banyak melibatkan kemampuan individu pemain dalam mendribel bola ke depan tanpa visi dan pengambilan posisi yang bagus. 


Dalam hal ini Lampard memiliki peran atas permasalahan Chelsea tersebut. Pria Inggris yang dulunya bermain sebagai gelandang ini dianggap terlalu bergantung dengan kehadiran Mount dan Tammy. Kedua pemain terlihat kelelahan secara fisik dan mental, minimnya pengalaman menangani tekanan besar di klub yang memiliki profil seperti Chelsea membuat keduanya tampak kendur dalam beberapa bulan terakhir. 


Lampard bukannya tak memiliki amunisi alternatif ketika dirinya memiliki Olivier Giroud sebagai penyerang pelapis yang nyaris tak pernah bermain musim ini. 


Tapi sang pelatih tampak enggan mengambil opsi tersebut karena rencana utamanya adalah melepas pemain Prancis itu pada Januari silam, yang mana gagal terwujud karena gagalnya Chelsea mendatangkan pemain baru. 


Namun kembali pada penjelasan sebelumnya, Chelsea dan Lampard bagaimanapun baru mendapatkan putusan pemotongan masa larangan transfer pada awal Desember. Jadi, kenapa tak memilih untuk mengandalkan Giroud sebagai alternatif (ketimbang Michy Batshuayi yang minim kontribusi) jika skenario buruk terjadi (banding gagal) dan malah bersikap seolah semuanya baik-baik saja?


Ketergantungan terhadap Mount juga menjadi sorotan utama karena Lampard tampak enggan memarkir pemain asli Inggris tersebut ketika performanya menurun. Padahal beberapa alternatif formasi bisa dimainkan tanpa kehadiran Mount dan layak dipertimbangkan menjadi skema reguler karena sudah pernah dicoba pada beberapa laga, seperti dengan memainkan Jorginho, Mateo Kovacic, dan N'Golo Kante secara bersamaan di lini tengah. Namun alih-alih mengambil opsi tersebut, Lampard malah bergiliran memarkir Kovacic dan Jorginho ketika  performa mereka cenderung baik-baik saja. 


Kebijakan Lampard ini pun membuat perekrutan Hakim Ziyech diiringi tanda tanya besar. Apakah dia akan memiliki kesempatan yang sama untuk membuktikan bahwa dirinya layak masuk tim inti mengingat posisi bermainnya nyaris serupa dengan Mount, sebagai pengatur skema serangan tim di sepertiga akhir lapangan? Apakah Lampard bersedia menanggalkan kebanggaannya sendiri sebagai pelatih yang bersedia memberikan kesempatan lebih pada pemain muda Inggris atau akademi Chelsea?


Ziyech memang masih harus membuktikan diri mengenai kelayakannya, namun itu juga harus disertai dengan kesempatan yang setara. Tapi keputusan dewan klub Chelsea untuk mendatangkan Ziyech adalah sebuah upaya tepat untuk menjawab kesulitan tim London Barat itu pada musim depan dan sebuah uluran tangan untuk Lampard. Pada saatnya nanti, adalah keputusan Lampard dan kerja keras Ziyech juga, yang akan menentukan apakah ini akan menjadi transfer gagal atau berhasil.