​Ketika para pesepakbola memutuskan gantung sepatu sebagai pemain, banyak dari mereka yang tetap berada di dunia sepakbola dengan menjalani karier barunya menjadi pelatih. Bahkan pada musim 2019/20 ini, ada 15 nama sosok yang duduk di kursi kepelatihan mantan timnya.


Berikut adalah penjabarannya.


15. Neil Lennon (Celtic FC)

CFR Cluj v Celtic FC: Group E - UEFA Europa League

Neil Lennon dapat dibilang menjadi sosok yang menemukan kesuksesan saat berperan sebagai pemain maupun pelatih di Celtic. Karena sebagai pemain di medio 2000 sampai 2007, pria berusia 48 tahun tersebut bisa merengkuh lima gelar Scottish Premier League, empat Scottish Cup dan Scottish League Cup.


Kala menjadi pelatih di 2010-2014 dan 2019 hingga sekarang, Lennon sudah membawa enam gelar untuk The Hoops.


14. Sergio Conceicao (FC Porto)

Sergio Conceicao

Sebelum namanya dikenal luas saat memperkuat Lazio, Sergio Conceicao juga mendulang kesuksesan kala membela FC Porto di medio 1996-1998 dan sempat kembali ke sana pada tahun 2004 dengan menjuarai tiga gelar Primeira Liga, satu gelar Taca de Portugal dan satu Supertaca Candido de Oliveira.


Kali ini, Conceicao kembali ke Dragao untuk ketiga kalinya dengan berperan sebagai pelatih sejak tahun 2017. Di sana, dia sudah mengoleksi gelar Primeira Liga dan Supertaca Candido de Oliveira.


13. Marcelo Gallardo (River Plate)

Marcelo Gallardo

Marcelo Gallardo, kini dianggap sebagai salah pelatih terbaik di River Plate. Gallardo berhasil menjuarai semua trofi yang diikuti oleh Los Millonarios yaitu gelar Copa Sudamericana, Recopa Sudamericana, Copa Libertadores, Suruga Bank Championship, Copa Argentina serta Supercopa Argentina (2017).


Catatan itu bahkan lebih impresif ketika dirinya memperkuat River Plate di tiga era berbeda yaitu pada tahun 1993-1999, 2003-2006, dan 2009-2010 lantaran hanya mengangkat trofi Primera Division, Copa Libertadore,  dan Sudamericana.


12. Dejan Stankovic (Red Star Belgrade)

Crvena Zvezda unveil new head coach Dejan Stankovic

Pesepakbola asal Serbia, Dejan Stankovic yang namanya sudah dikenal luas di ajang Serie A lantaran pernah memperkuat Lazio dan Inter Milan, memutuskan untuk kembali ke klub masa kecilnya Red Star Belgrade.


Kali ini, pria yang sudah berusia 41 tahun itu menjalani perannya sebagai pelatih sejak bulan Desember 2019 dan meneken kontrak selama dua setengah tahun.


11. Hans-Dieter Flick (Bayern Munchen)

Hansi Flick

Saat penampilan Bayern Munchen mengalami inkonsistensi di tangan Niko Kovac, pihak klub akhirnya memutuskan untuk memecatnya dan menggantikannya dengan asisten pelatihnya yaitu Hans-Dieter Flick.


Sebagaiman diketahui, Flick juga merupakan mantan pemain Die Roten yang berada di sana pada medio 1985 sampai 1990.


10. Michel Der Zakarian (Montpellier)

FBL-FRA-LIGUE1-NANTES-MONTPELLIER

Saat masih aktif menjadi pesepakbola, Michel Der Zakarian yang berperan sebagai bek menjalani kariernya dengan Montpeiller dalam jangka panjang yaitu sepuluh tahun dari 1988 sampai 1998.


19 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2017 Michel kembali ke Montpeiller untuk menjadi pelatih hingga saat ini. Walau Der Zakarian belum pernah mempersembahkan trofi, pelatih berusia 56 tahun itu konsisten membawa timnya untuk berada di posisi enam besar Ligue 1.


9. Chris Wilder (Sheffield United)

FBL-ENG-PR-SHEFFIELD UTD-MAN CITY

 Sosok pelatih berusia 52 tahun ini benar-benar mempunyai peran besar untuk membantu Sheffield United melangkah ke Liga Primer Inggris. Chris Wilder sudah berada di The Blades saat masih terdampar dalam ajang League One pada tahun 2016.


Bahkan di musim 2019/20, Wilder membuat kejutan dengan membawa timnya dapat duduk di delapan klasemen sementara Liga Primer Inggris. Sebagai catatan tambahan, dia juga memulai karier sepakbola dengan Sheffield United pada tahun 1986.


8. Eddie Howe (AFC Bournemouth)

Eddie Howe

Mempunyai kisah seperti Chris Wilder, Eddie Howe juga terbilang mempunyai peran besar di AFC Bournemouth. Bahkan Howe membantu The Cherries ke ajang Liga Primer inggris dari timnya masih bermain dalam kompetisi League Two.


Saat ini, Howe yang juga pernah memperkuat Bournemouth (1994-2002 dan 2004-2007) terus berhasil membawa anak asuhannya konsisten berada di papan tengah dalam menjalani kompetisi tertinggi di Inggris.


7. Simone Inzaghi (Lazio)

Simone Inzaghi

Karier Simone Inzaghi memang tidak begitu segermerlap kakaknya, Filipo Inzaghi yang berada di AC Milan. Meski Simone memang bisa membantu Lazio menjuarai Serie A, Coppa Italia, Supercoppa Italiana dan UEFA Super Cup, pria asal Italia tersebut jarang mendapatkan menit bermain reguler.


Kendati demikian, Simone Inzaghi yang kembali ke The Eagles sebagai pelatih sejak tahun 2016, memberikan dampak positif dengan sukses meraih gelar Coppa Italia dan Supercoppa Italiana dan kini masuk ke dalam persaingan gelar juara Serie A 2019/20 dengan duduk di peringkat ketiga.


6. Xavi Hernandez (Al-Saad)

Xavier Hernandez

Xavi Hernande  memang dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik milik Barcelona dan timnas Spanyol. Namun kali ini kami tidak membahas kariernya saat berada di Camp Nou melainkan akhir kariernya kala berada di Al-Saad.


Usai memutuskan hengkang dari Barca, Xavi memutuskan bermain dengan klub asal Qatar tersebut selama empat tahun dan memutuskan pensiun untuk menjadi pelatih di sana.


5. Diego Simeone (Atletico Madrid)

Diego Pablo 'Cholo' Simeone

Saat membela Atletico Madrid di tahun 1994-1997 dan 2003-2005, Diego Simeone pernah mempersembahkan trofi La Liga dan Copa del Rey. Kala menjadi pelatih, Simeone juga mendulang kesuksesan bersama klub asal Ibukota Spanyol tersebut.


Simeone pernah menghentikan dominasi Barcelona dan Real Madrid dengan menjuarai gelar La Liga di tahun 2014. Selain itu, pelatih asal Argentina tersebut juga merengkuh Europa League, Copa del Rey, UEFA Super Cup dan Supercopa de Espana.


4. Ole Gunnar Solskjaer (Manchester United)

FBL-ENG-PR-MAN UTD-BURNLEY

11 musim memperkuat Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer dikenal sebagai sosok super-sub lantaran andal membantu rekan-rekannya saat datang dari bangku cadangan. Momen yang paling dikenal adalah saat mencetak gol final Liga Champions melawan Bayern Munchen tahun 1999.


Sebagai pelatih di The Red Devils, kondisi Solskjaer justru tengah terpuruk lantaran terus mengalami inkonsistensi performa.


3. Frank Lampard (Chelsea)

FBL-ENG-PR-NEWCASTLE-CHELSEA

Pencetak gol terbanyak sepanjang masa Chelsea, Frank Lampard di musim 2019/20 ini kembali ke Stamford Bridge dengan menjaga sebagai pelatih. Pada saat ini, penampilan The Blues di tangannya masih terbilang naik-turun lantaran tengah sulit menjaga momentum kemenangannya.


2. Zinedine Zidane (Real Madrid)

Zinedine Zidane

Catatan Zinedine Zidane di Real Madrid, nampaknya lebih terlihat baik saat menjadi pelatih ketimbang pemain. Karena, dirinya bisa membawa Los Blancos meraih tiga gelar Champions League secara beruntun (2016. 2017, 2018). Selain itu dia juga mempersembahkan gelar La Liga serta Super Cup, Piala Dunia Antarklub dan Supercopa de Espana sebagai pelatih.


1. Mikel Arteta (Arsenal)

Mikel Arteta

Terakhir ada Mikel Arteta yang menjabat sebagai pelatih Arsenal di akhir tahun 2019 usai pihak klub mendepak Unai Emery. Mempunyai pengalaman menjadi asisten pelatih bersama Manchester City asuhan Pep Guardiola, Arteta kini diharapkan dapat mengembalikan performa The Gunners.


Bahkan, Arteta mempunyai ekspektasi tinggi untuk membawa Meriam London ke empat besar klasemen Premier League.