​​Chelsea kembali gagal meraih kemenangan di Liga Pimer Inggris setelah ditahan imbang ​Arsenal 2-2 di Stamford Bridge, Rabu (22/1) dini hari WIB. Hasil ini menyusul kekalahan dari Newcastle yang diderita Tammy Abraham dkk akhir pekan lalu. 


Apa yang menjadi faktor kegagalan The Blues meraih tiga poin di kandang sendiri? Apa yang membuat Arsenal tetap berani keluar menyerang meski bermain dengan 10 orang?


Berikut adalah lima kesimpulan dari laga Derby London dini hari tadi:


1. Performa Kepa Arrizabalaga Kian Memprihatinkan

Kepa Arrizabalaga

Penjaga gawang asal Spanyol ini dibeli Chelsea dengan harga yang menjadikannya sebagai kiper termahal dunia pada musim panas 2018. Namun performanya secara individual musim ini sangat memprihatinkan.


Kepa Arrizabalaga saat ini menjadi penjaga gawang dengan rataan penyelamatan terendah di Liga Inggris 2019/20. Terpuruknya performa Kepa pun ditegaskan dengan performanya saat melawan Arsenal dini hari tadi. 


Sang kiper gagal menghentikan sepakan menyilang Hector Bellerin jelang laga berakhir yang membuat impian tiga poin untuk The Blues melayang begitu saja.


Pelatih Chelsea, Frank Lampard selepas laga pun tak menepis anggapan bahwa performa Kepa dalam derby London kali ini buruk. Dia mengiyakan penilaian wartawan yang menyebut Kepa terlalu santai saat menguasai bola dan menambahkan bahwa sang kiper juga kerap terlalu menahan bola yang merusak ritme permainan tim. 


2. Keberanian Arsenal Meski Bermain 10 Orang Layak Diacungi Jempol

Granit Xhaka,Hector Bellerin

Bermain dengan 10 orang kini bukan lagi menjadi sebuah undangan bencana kekalahan, tapi justru  menciptakan atmosfer yang menginspirasi untuk tim yang kehilangan pemainnya. 


Hal itu terlihat dari bagaimana Arsenal tetap tampil all out, meladeni permainan menekan The Blues dengan juga balik menekan dengan intensitas yang sama, terutama di babak kedua, yang menghasilkan satu poin di kandang rival sekota. Padahal, tim tamu kehilangan David Luiz pada menit ke-26 setelah bek asal Brasil itu melakukan pelanggaran kepada striker Chelsea, Tammy Abraham.


Namun Mikel Arteta tidak mengintruksikan anak buahnya untuk bermain 'berhati-hati'. Selama nyaris satu jam bermain 10 orang, The Gunners justru  juga memberikan ancaman ke lini pertahanan The Blues meski hanya menghasilkan dua peluang yang semuanya terkonversi menjadi gol. Mungkin Arteta mempertimbangkan rekor buruk Chelsea di kandang dan berusaha meneror mental anak asuh Lampard dengan tetap menerapkan intensitas tinggi.


3. Chelsea Minim Sentuhan Akhir yang Mematikan

FBL-ENG-PR-CHELSEA-ARSENAL

Ini sudah menjadi bahasan yang cukup panjang dan berulang-ulang disampaikan Fank Lampard, bahwa anak buahnya kerap membuang terlalu banyak peluang yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk membunuh lawan. 


Absennya Christian Pulisic dini hari tadi juga menambah runyam persoalan The Blues. Callum Hudson-Odoi dan Willian bisa diisolasi dengan baik oleh para bek tim tamu dan keduanya kesulitan melepaskan diri dengan kualitas yang mereka miliki. Tammy Abraham juga tampak kelelahan hingga terpincang-pincang di akhir laga.


Masuknya Ross Barkley dan Mason Mount tak banyak mengubah keadaan meski Chelsea sempat unggul 2-1 tak lama setelah mereka masuk. Sejauh ini kombinasi di lini serang yang dicoba Lampard belum memberikan solusi untuk efektivitas The Blues. Mungkin mereka butuh pemain baru? Edinson Cavani?


4. Keputusan Aneh Frank Lampard Menarik Mateo Kovacic dan N'Golo Kante

FBL-ENG-PR-CHELSEA-ARSENAL

Saat pertandingan dalam kedudukan 1-1 dan Arsenal tampak belum menyerah mengejar gol, Lampard menarik keluar Mateo Kovacic, dan juga N'Golo Kante untuk memasukkan Mason Mount dan Ross Barkley. 


Menarik dua gelandang yang mengatur keseimbangan dan tempo permainan tim dalam kedudukan 1-1 sepertinya bukan hal yang bijak untuk dilakukan. Ya, N'Golo Kante terpeleset yang berakhir dengan gol Gabriel Martinelli, tapi itu lebih berbau ketidakberuntungan ketimbang menggambarkan kualitas sang pemain. 


Lampard seharusnya menarik Hudson-Odoi yang tak banyak berkutik di sektor sayap dan menggantikannya dengan Barkley atau Mount ketimbang membiarkan Jorginho mengatur permainan tim sendirian di tengah. Tingkat intensitas serangan yang coba dinaikkan oleh Lampard malah membuat Chelsea memiliki sedikit kontrol di lini tengah dengan pergantian pemain yang dilakukannya.


5. Chelsea Memang Membutuhkan Pemain Baru

Tammy Abraham

Saat awal musim, lini pertahanan Chelsea menjadi salah satu lini yang paling negatif karena banyaknya gol yang menembus gawang Kepa. Namun memasuki Desember, lini serang Chelea yang kerap tampil sebagai penyelamat tiga poin justru mulai kehabisan tenaga dan kreativitas untuk mengakali pertahanan lawan. 


Mason Mount menjadi pemain yang paling disorot karena dirinya lah yang bermain paling reguler bersama Tammy Abraham dan Willian di lini depan. Selain karena performanya cenderung menurun cukup drastis, Chelsea pun tak memiliki cadangan atau pemain pelapis yang bisa memainkan peran gelandang serang atau playmaker seperti Mount. 


Sementara Tammy Abraham kembali dihantam cedera untuk kedua kalinya musim ini, sebuah pertanda kelelahan yang amat nyata mengingat dirinya juga nyaris selalu bermain di setiap pertandingan musim ini. 


Dewan klub The Blues begitu ngotot untuk mengupayakan pemotongan masa larangan transfer pada akhir tahun lalu. Jadi jika Chelsea justru melewatkan Januari tanpa membawa satu pemain pun, langkah yang ditempuh bisa berarti sia-sia dan bisa berdampak buruk untuk sisa musim ini. 


Pastinya banyak suporter Chelsea yang berharap Lampard lebih terbuka terhadap opsi yang tersedia di luar daripada menguras habis energi pemain-pemain mudanya.