“Saya ingat betul laga pertama saya bersama Timnas Skotlandia, itu merupakan laga yang sangat penting bagi saya,” ujar Andy Robertson kepada 90min. Bek sayap andalan Liverpool ini mendapatkan caps pertamanya kala usianya belum menginjak 20 tahun.


“Saya ingat betapa bangganya saya melihat jersey saya digantung di ruang ganti saat itu, kalau tidak salah, saya mengenakan nomor 13.”


Memang perjalanan karier Robertson bisa dibilang bagai mimpi bagi banyak anak muda di Britania Raya. Dia sempat bekerja sebagai penjual tiket di Hampden Park, tanpa menyadari bahwa dirinya akan memimpin negaranya sebagai kapten di tempat yang sama setidaknya 10 tahun kemudian. Robertson pun tidak pernah melupakan asal usulnya dan selalu bersyukur atas perjalanannya. Kini dirinya pun bergelimang kesuksesan, termasuk menjadi salah satu brand ambassador dari Nike.


“Saya ingat sepatu sepakbola pertama saya adalah Nike Tiempo, dan saya selalu mengenakan Nike sepanjang karier saya. Tentunya, saya tidak akan pernah membayangkan suatu hari saya akan menjadi ‘wajah’ dari merek tersebut.”


“Saya hanya berpikir bahwa saya ingin menjadi seorang pemain profesional. Namun, ketika semuanya sudah terbangun, saya pun mulai berpikir,’saya menyukai sepatu Nike, dan saya juga menggemari pakaian mereka, jadi kenapa tidak?” ujar Robertson terkait keputusannya untuk menjadi brand ambassador Nike.


Perkembangan Robertson pun terjadi hampir bersamaan dengan tandemnya di Liverpool saat ini, yakni bek kanan muda, Trent Alexander-Arnold. Keduanya pun kini menjadi duet maut di sektor pertahanan terluar klub Merseyside tersebut selama dua tahun terakhir.


Bintang asal Inggris itu pun ‘mengalahkan’ Robertson dari segi assist di musim 2018/19 lalu dengan 13 assist yang sekaligus memecahkan rekor assist oleh seorang bek. Robertson pun tidak segan mengakui bahwa rekannya tersebut memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melepaskan umpan.


“Oh, dia (Arnold), jelas yang terbaik, terutama dari situasi bola mati, dia sangat piawai memanfaatkan kesempatan. Sedangkan saya? Saya masih belajar.”


“Saya selalu mengatakan bahwa teknik saya lebih ‘kasar’ dibanding dirinya. Menurut saya, dia sedikit seperti David Beckham. Satu yang pasti, dia adalah sosok yang luar biasa dan kami berdua sangat menikmati bermain bersama saat ini,” pungkas pria 25 tahun ini.


“Kami mulai bersaing di musim lalu, dan itu sangat bermanfaat bagi kami karena Trent sukses memecagkan rekor. Hal itu menjadi dorongan yang positif, kami selalu ingin membantu tim mencetak gol meskipun tugas utama kami adalah bertahan. Di usia 21 tahun, saya rasa dia sudah menjadi pemain terbaik di posisinya.”


Jika kesuksesan di level klub sudah terbukti, kini Robertson ditantang untuk setidaknya menunjukkan kualitas yang serupa kala menjadi kapten Timnas Skotlandia. Tantangan berat yang sudah ada di depan mata, adalah meloloskan negaranya ke kancah Euro 2020 melalui jalur playoff melawan Israel. Jika berhasil, turnamen tersebut akan menjadi partisipasi pertama Skotlandia sejak 1998.


“Saya tahu, banyak pembicaraan terkait penampilan saya bersama Skotlandia, dan tidak semuanya positif. Akan tetapi, kami sangat termotivasi untuk kembali membawa Negara kami menembus Euro. Tahun 1998 adalah yang terakhir, dan sudah terlalu lama kami absen.”


“Israel jelas bukan lawan mudah, kami menghadapi mereka di Nations League dengan catatan satu kali kalah dan satu kali menang. Mereka juga yang akhirnya lolos ke babak selanjutnya. Namun, dengan seluruh bangsa mendukung kami, saya yakin kami bisa mewujudkan impian kami semua,” pungkas mantan pemain Hull City ini.


Andy Robertson

Robertson pun masih harus menanti hingga Maret mendatang untuk kembali berlaga di level internasional. Sebelum itu, fokus utama mantan pemain Dundee United ini pun adalah membantu Liverpool mempertahankan keunggulan mereka di puncak klasemen Premier League. Apalagi, The Reds belum pernah meraih gelar tersebut sejak 1989/90, kala kompetisi masih bermana First Division.


“Bagi saya, memenangkan Premier League adalah pencapaian terbesar, meski saya juga berharap bisa melaju jauh di Champions League seperti musim lalu. Kami sudah menembus dua final, kenapa tidak melakukannya tiga musim beruntun?”


“Impian saya tentu saja adalah memenangkan Premier League, dan juga menembus Euro bersama Skotlandia. Akan sangat luar biasa jika bisa melakukan keduanya. Dan sebagai kapten, saya merasakan beban itu, namun saya akan tetap berupaya untuk melakukan yang terbaik,” tutupnya.