Pelatih berusia 60 tahun, Maurizio Sarri, kembali melatih di Italia setelah semusim sebelumnya membesut Chelsea. Kendati hanya setahun berada di Inggris, Sarri sudah dapat membandingkan Chelsea dengan mantan klub lainnya, Napoli.


Sarri, sebelum di Chelsea, melatih Napoli dari tahun 2015 hingga 2018. Pengalamannya itu sudah cukup bagi Sarri untuk menjabarkan perbandingan kedua tim tersebut. Menurutnya, Chelsea bermain lebih mengandalkan kemampuan individu pemain ketimbang Napoli yang kolektif.



"Chelsea adalah tim yang dibentuk dari pemain-pemain, mungkin mereka yang punya level teknik lebih tinggi, namun dengan karakter individu," terang Sarri, dilansir dari Standard Sport.


"Mereka punya pemain-pemain yang dapat bermain di sayap, ingin bermain duel satu lawan satu, jadi dari sudut pandang itu, gaya sepak bola yang mereka mainkan kurang mengalir, kurang lembut."



"Dibandingkan dengan Napoli yang semua pemainnya dapat bermain baik (bersama), di Chelsea ada tujuh atau delapan pemain yang bermain individu. Mereka efektif, solid, dan itu tidak sulit untuk dikalahkan," tuturnya.


Sama seperti saat melatih Chelsea di musim 2018/19, ketika Sarri dikritisi fans dan media Inggris di periode sulit, Sarri juga ingin mengubah nada skeptis fans Juventus musim depan.


"Saya tiba dari divisi bawah, dari Empoli ke Napoli lalu Chelsea, mereka semua skeptis, suporter juga skeptis," imbuh Sarri.



"Saya pikir akan ada sedikit skeptis, tapi normal di sini ada kritikan dan skeptis. Hanya ada satu cara untuk menghilangkannya, menang (sukses) - itulah satu-satunya cara. Untuk menghibur dan meraih hasil positif. Saya tidak melihat jalan lainnya."



"Dunia media Inggris cukup diketahui semua orang - ada beberapa media hebat dan juga beberapa tabloid, yang kualitasnya lebih rendah."


"Segala kritikan, serangan, dan tekanan, Anda harus memiliki kekuatan tekad dan menjadi lebih kuat lagi," pungkas Sarri.