​Ekspektasi tinggi tentu saja akan selalu diberikan publik pada ​Manchester United di setiap musim, maklum saja, klub yang didirikan pada tahun 1878 itu memang dikenal sebagai klub berprestasi. Selain memiliki 20 gelar ​Premier League​United juga memiliki sejumlah pemain berkualitas di dalam skuat.


Di musim 2016/17, pihak klub kemudian memutuskan untuk merekrut Jose Mourinho, setelah sukses mempersembahkan tiga trofi di musim perdana, pria asal Portugal tersebut gagal memenangkan FA Cup setelah di partai final takluk dari ​Chelsea dengan skor 1-0.


Musim ketiga Mourinho di Old Trafford juga berjalan dengan buruk, selain pihak klub tidak berhasil merekrut pemain yang sudah lama berada di dalam daftar belanja, tim juga mengalami inkonsistensi hingga akhirnya menempati peringkat enam klasemen sementara.

Puncak kekecewaan pihak klub pada Mourinho akhirnya terjadi saat ​United takluk 3-1 dari ​Liverpool pada 18 Desember 2018 silam. Keretakan dan tak lagi harmonisnya hubungan dengan para pemain juga disinyalir menjadi penyebab Mourinho harus kehilangan jabatannya sebagai manajer di Old Trafford.


Tak mau menunggu lama, pihak klub langsung menunjuk mantan pemain mereka, Ole Gunnar Solskjaer sebagai manajer interim. Awalnya memang banyak pihak -- termasuk saya sendiri terkejut dengan keputusan yang diambil manajemen klub, terlebih Solskjaer masih minim pengalaman melatih -- dia baru menukangi klub asal Norwegia, FC Molde.


Namun ternyata Solskjaer berhasil membungkam keraguan publik dan sukses mengantarkan ​The Red Devils mencatatkan rekor tak terkalahkan dalam 11 pertandingan beruntun sebelum akhirnya takluk dari Paris Saint-Germain di leg pertama babak 16 besar​ Champions League.


Kekalahan ini kemudian membuat publik mulai sedikit meragukan kinerja Solskjaer saat para pemainnya dihadapkan dengan laga sulit melawan tim papan atas, meski sebelumnya mereka juga sudah mengalahkan ​Tottenham Hotspur dan juga menyingkirkan ​Arsenal dari FA Cup.

Hal ini pun diakui langsung oleh salah satu legenda klub, Gary Neville. Menurutnya klub yang didirikan pada tahun 1878 itu tak perlu terburu-buru untuk menunjuk Solskjaer sebagai manajer tetap.


"Menurut saya terlalu cepat untuk memberikan kontrak permanen kepada Ole Gunnar Solskjaer. Saya rasa melihat performa yang ditunjukkan oleh Manchester United pada akhir Maret adalah saat yang tepat untuk memberikan penilaian, kemudian mengulang proses itu pada April, jelang akhir musim," ujar Neville seperti dilansir​ Sky Sports.


Sepertinya apa yang dikatakan Neville memang cukup tepat, meski pria asal Norwegia tersebut sukses mengangkat prestasi tim dan bahkan kini mereka berada di peringkat empat klasemen sementara sekaligus mengamankan satu tempat di babak delapan besar Champions League, pasca menang dramatis di leg kedua kontra PSG, Solskjaer belum menghadapi 'ujian' yang sebenarnya.


Namun ternyata hal tersebut nampaknya sama sekali tidak memengaruhi keputusan akhir manajemen klub. Sempat dikaitkan dengan beberapa nama lain, mereka akhirnya mengangkat Solskjaer sebagai manajer tetap dan resmi mengontraknya selama tiga musim ke depan mulai Kamis (28/3).

"Sejak hari pertama saya datang ke Manchester United, saya merasa berada di rumah dan bersama klub yang begitu spesial. Menjadi sebuah kebanggaan bisa menjadi pemain Manchester United dan kemudian memulai karier manajerial di sini," ujar Solskjaer seperti dilansir laman resmi klub.


"Banyak pengalaman fantastis sekaligus berharga yang saya dapatkan dalam beberapa bulan terakhir. Saya pun ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan rasa terima kasih pada staf kepelatihan dan para pemain. Kami telah bekerja dengan sangat luar biasa," lanjut mantan pelatih Cardiff itu.


Ya, kinerja Solskjaer sebagai manajer interim rasanya memang patut diberi acungan jempol, selain mampu meningkatkan performa tim, dia juga berhasil menggali potensi pemain yang ada di dalam skuat. Tiga pemain yang setidaknya menampilkan peningkatan yang paling signifikan adalah ​Paul Pogba, Ander Herrera, dan Marcus Rashford.


Namun jika boleh berkata jujur, sepertinya manajemen klub terburu-buru mengangkat Solskjaer. Masih banyak hal yang masih belum 'tersentuh' olehnya. ​United bahkan sempat menelan dua kekalahan beruntun, yakni kontra ​Arsenal dan secara tak terduga disingkirkan Wolves dari FA Cup.


Masalah lain yang berpeluang menghinggapi Solskjaer tentu saja hal yang menyangkut kontrak pemain. 

Meski berbagai dukungan juga mengalir dari anak-anak asuhnya agar pihak klub segera mempermanenkan kontrak sang manajer, hal tersebut tak lantas menjamin para pemain andalan akan bertahan. Bahkan ​Pogba secara terbuka mengungkapkan keinginan untuk bergabung dengan ​Real Madrid.


"Seperti apa yang sebelumnya sudah pernah saya katakan, Real Madrid adalah klub impian bagi setiap pesepakbola. Mereka adalah salah satu klub terbesar di dunia dan kini Zidane kembali melatih. Bergabung ke sana tentu saja adalah impian bagi setiap orang yang menyukai sepakbola," ujar Pogba seperti dilansir AS English.


Selain​ Pogba, ​United juga terancam melepas David de Gea dan Ander Herrera secara gratis. Nama pertama bahkan masih jadi target utama​ Los Blancos, sementara Herrera masuk dalam radar transfer​ Barcelona, PSG, dan​ Arsenal.


Selain dua masalah di atas, seperti apa yang sudah dikatakan sebelumnya, pihak klub seharusnya tidak secepat ini langsung memberikan jabatan manajer tetap pada Solskjaer. Mengapa mereka tidak mengikuti ​Chelsea yang baru mengangkat Roberto Di Matteo sebagai manajer pasca sukses mempersembahkan dua gelar berbeda, FA Cup dan ​Champions League di tahun 2012 silam?


Kini Solskjaer masih harus menghadapi tugas berat, yakni mengunci posisi empat besar klasemen ​Premier League dan juga menjaga konsistensi tim saat berlaga di ​Champions League. Lawan sulit pun sudah menanti ​United di babak delapan besar, mereka akan menantang raksasa Spanyol, ​Barcelona.


Menarik untuk melihat bagaimana kinerja Solskjaer di Old Trafford selama tiga musim ke depan, jika dia berhasil menjaga konsistensi dan mungkin mempersembahkan trofi sekaligus mengantarkan ​United kembali berjaya, maka pria kelahiran Kristiansund, Norwegia tersebut jelas akan menyandang status lebih dari seorang legenda.