Saya sudah sering melihat adanya anggapan bahwa Premier League adalah liga terbaik di Eropa dan bahkan di dunia, dan mungkin anggapan tersebut benar apabila dilihat dari segi hiburan dan kesuksesan yang diraih tim-tim dari liga itu sejauh ini dalam kompetisi Champions League dan Europa League, dengan kelolosan enam tim yang berpartisipasi ke babak perempat final.


Tetapi apa yang ingin saya bicarakan di sini adalah sesuatu yang berbeda, berkaitan dengan kelebihan yang sekaligus menghasilkan kekurangan besar di Premier League, terutama dari segi pengembangan bakat dan potensi dari pemain-pemain muda Inggris yang mengawali karier mereka sebagai pemain sepak bola profesional.


Setiap klub di liga tersebut memang memiliki akademi dengan deretan pemain muda di berbagai tingkat kelompok umur, tetapi mereka selalu mengalami kesulitan untuk menembus skuat senior di tim yang mereka bela, dan lebih sering dipinjamkan ke tim lain yang berada di divisi yang lebih rendah.

Harry Kane


Pengalaman dipinjamkan ke klub lain memang dapat membantu perkembangan pemain-pemain muda, dan apabila melihat pemain seperti Harry Kane, yang pernah dipinjamkan Tottenham Hotspur ke Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester City, langkah tersebut memang dapat membuat seorang pemain memiliki kemampuan yang lebih matang.


Tetapi pengalaman seperti Kane juga bergantung dengan bantuan manajer yang memberikannya kesempatan bermain di tim yang sebelumnya meminjamkannya. Kejadian seperti itu sangat jarang terjadi terutama bagi tim-tim seperti Chelsea dan Manchester City.


Bagi City, mereka sudah merasakan kehilangan pemain muda berbakat ketika Jadon Sancho, pemain yang bergabung dengan akademi mereka dari Watford pada 2014, memutuskan untuk keluar dari Inggris untuk pindah ke Jerman dan bergabung dengan Borussia Dortmund pada musim 2017/18. Walau memiliki potensi tinggi, apa yang ditunjukkan oleh Sancho dengan Dortmund musim ini cukup mengejutkan.


FBL-GER-BUNDESLIGA-DORTMUND-LEVERKUSEN

Sancho dan beberapa pemain lainnya seperti Reiss Nelson (dipinjamkan Arsenal ke Hoffenheim), Ademola Lookman (pernah dipinjamkan Everton ke RB Leipzig), serta Jake Clarke-Salter (dipinjamkan Chelsea ke Vitesse), merasakan sesuatu yang tidak dapat mereka alami apabila bertahan di Premier League, yaitu kesempatan untuk bermain di tim senior secara rutin.


Seorang pemain muda memang dapat mengembangkan kemampuannya dengan berlatih dengan rekan-rekan berkualitas tinggi yang ada di dalam klubnya, seperti yang dirasakan dalam dua tahun terkahir oleh Phil Foden di Manchester City, tetapi sebagian besar tim lain hanya memanfaatkan pemain-pemain muda yang ada di dalam skuat mereka sebagai bagian dari skema latihan yang ingin diterapkan oleh sang manajer.


Pindah ke luar Inggris tidak hanya dapat membuka kesempatan bagi pemain-pemain muda untuk memperoleh waktu bermain yang lebih tinggi pada tingkat senior di divisi teratas, tetapi juga dapat menjadi kesempatan bagi mereka untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini mereka tempati, mempelajari budaya baru di negara lain, dan membuka jalur untuk masuk ke skuat senior Tim Nasional Inggris.