Indra Sjafri jelas tengah menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir, terlebih setelah dirinya sukses mengantarkan tim nasional​ Indonesia U22 menorehkan sejarah dengan memenangkan Piala AFF setelah mengalahkan musuh bebuyutannya, Thailand di partai final dengan skor 2-1 pada Februari silam.


Tak berselang lama, eks pelatih Bali United itu kemudian langsung dihadapkan dengan tugas berat lainnya, yakni memimpin timnas U23 di babak kualifikasi Piala Asia U23 2020 yang berlangsung di Vietnam pada 22-26 Maret 2019. Sebagian besar pemain andalan di timnas U22 juga diboyong ke timnas U23. 


Dari 24 pemain yang diumumkan Indra, ada satu nama yang cukup mencuri perhatian, yakni Ezra Walian. Terpana dengan penampilan pemain RKC Waalwijk itu di laga uji coba kontra Bali United, sang pelatih pun memilih membawanya ke Vietnam ​meski kemudian harus mencoret nama Todd Rivaldo Ferre yang dikabarkan baru pulih dari cedera.


Sayang, Ezra kemudian gagal membela Garuda Muda setelah tersandung masalah administrasi. AFC, selaku badan tertinggi sepak bola Asia, mempertanyakan status Ezra karena ia pernah membela Timnas Belanda di Kualifikasi Euro U-17 pada tahun 2014.


Ezra mencetak lima gol kala Belanda menang 12-0 atas San Marino pada 19 Oktober 2013. Itu menjadi salah satu dari dua penampilannya bersama Timnas Belanda sebelum berjuang mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Pemain berusia 21 tahun itu pun dilarang memperkuat timnas baik di kompetisi resmi FIFA atau AFC.


"Berdasarkan data dari semua dokumen yang kami terima. Ezra Walian tidak berhak meminta pindah asosiasi karena dia berpindah kewarganegaraan Indonesia setelah bermain dalam laga internasional di kompetisi resmi bersama timnas Belanda," tulis pernyataan resmi FIFA dilansir Fox Sports Asia.


Tentu saja kabar ini cukup mengejutkan, baik bagi saya maupun para penggemar timnas Indonesia lainnya, apalagi permasalahannya hanyalah soal kelengkapan administrasi. PSSI seharusnya langsung bertindak dan mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan kasus ini, agar persiapan tim juga tidak ikut terganggu.


Sejauh ini, federasi sepakbola tertinggi di Indonesia tersebut baru mengeluarkan pernyataan resmi dan menyebut bahwa mereka menghormati keputusan FIFA terkait kasus ini.


PSSI menghormati keputusan FIFA. Namun, kita masih punya peluang untuk melakukan banding terkait keputusan Ezra (Walian),” ungkap Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, dalam pernyataan yang dikutip dari situs resmi PSSI.


Sebelumnya, AFC meminta PSSI untuk mendapat persetujuan dari FIFA. PSSI juga sudah mengirimkan dokumen yang dibutuhkan oleh FIFA, yakni sumpah, decree, pernyataan dari Ezra, paspor Belanda, paspor indonesia - versi Inggris dan Bahasa Indonesia). ​Namun setelah diteliti, FIFA juga tetap pada pendiriannya, yakni melarang Ezra membela Garuda di semua level karena pernah bermain di kompetisi resmi sebelum dinaturalisasi.


Kasus yang menimpa Ezra Walian sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi di dunia persepakbolaan Asia, hal yang sama sempat menimpa bintang timnas Thailand, Charyl Chappuis.


Seperti diketahui, sebelum memperkuat Thailand mulai dari level U-23 hingga senior, Chappuis pernah membela timnas Swiss U-17 dan bahkan menjadi bagian tim yang sukses menjuarai Piala Dunia di tahun 2009.


Pemain yang kini tengah membela Muangthong United tersebut baru mendapatkan paspor Thailand pada tahun 2013, saat memutuskan untuk meninggalkan Eropa dan bergabung dengan Buriram United. Dua tahun kemudian, Chappuis mendapat panggilan pertama dari pelatih Thailand saat itu, Windfried Schafer untuk menghadapi Lebanon dalam kualifikasi Piala Asia 2015.


Saat itu, pemain yang berposisi sebagai gelandang tersebut sempat mendapat larangan tampil bersama Thailand, pasalnya Federasi Sepakbola Thailand (FAT) juga belum melaporkan dokumen soal perubahan status warganegara serta konfirmasi resmi dari Federasi Sepakbola Swiss (ASF-SFV) kepada FIFA.

"Saya merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Ezra, tetapi saya juga pernah mengalami hal yang sama pada 2013 ketika pertama kali mendapatkan panggilan untuk Timnas Thailand. Hal ini terjadi karena federasi sepak bola Thailand tidak memiliki kelengkapan dokumen yang memadai. Jadi saya tidak dapat tampil dalam pertandingan menghadapi Lebanon," tulis Chappuis dalam akun instagram pribadinya.


"Saya harap masalah ini akan segera berakhir dan Anda dapat tampil di masa depan untuk Indonesia," tambah pemain kelahiran Kloppen, Swiss tersebut.


Kesimpulan yang didapat ditarik adalah PSSI sebagai federasi sepakbola tertinggi seharusnya menjalankan tugas dengan lebih teliti, terlebih kompetisi yang diikuti timnas Indonesia juga merupakan kompetisi level internasional. Mereka juga sudah seharusnya melengkapi administrasi serta dokumen-dokumen dari setiap pemain yang ada di dalam skuat.


Jika hal tersebut mampu dilaksanakan dengan baik, hal konyol semacam ini sepertinya tidak akan terjadi.Garuda Muda juga bisa fokus dan turun dengan kekuatan penuh. 


Kini kita semua hanya bisa berharap jika Witan Sulaeman dkk akan mampu memenangkan pertandingan sisa sekaligus memastikan satu tempat di Piala Asia 2020.