Derby della Madonnina ke-170 berakhir untuk kemenangan 3-2 Inter Milan atas AC Milan di San Siro, Senin (18/3) dini hari WIB. Pelatih AC Milan, Gennaro Gattuso, semakin kesal dengan kekalahan itu karena melihat dua pemainnya, Franck Kessie dan Lucas Biglia ribut di bangku cadangan Milan.


Tiga gol Inter lahir dari Matias Vecino, Stefan de Vrij, dan penalti Lautaro Martinez, yang diperkecil gol Tiemoue Bakayoko dan Mateo Musacchio. Berkat hasil itu, Inter menyalip posisi Milan di peringkat tiga Serie A dan kedua tim kini terpaut dua poin.



Gattuso memuji kualitas Inter yang tidak pernah kalah di tiga Derby Milan terakhir mereka. Namun, legenda AC Milan itu mengapresiasi kerja keras yang diperlihatkan Alessio Romagnoli dkk.


"Pada paruh pertama kami terus ditekan secara konstan dan tak mampu keluar (membangun serangan). Di babak kedua kami mengubah beberapa hal. Kami kesulitan dengan pergerakan mereka dan mereka secara sistematika melewati kami dengan empat-lima pemain," papar Gattuso di Football-Italia.



"Saya dikritik karena terlalu bertahan, tapi Anda harus ingat karakter pemain-pemain yang saya miliki. Saya pikir setelah tertinggal 0-2, tim mana pun akan tumbang. Inter menggabungkan kualitas dengan kemampuan fisik, jadi saya bahagia dengan performa tim."


"Jika kami tidak melakukan yang kami inginkan di paruh pertama, maka pujian untuk Inter. Kami menciptakan peluang-peluang, kami sangat dekat dengan gol penyama kedudukan. Terlalu banyak ruang dan kami melakukan kesalahan," imbuh Gattuso.



Kekesalan Gattuso semakin bertambah setelah melihat Kessie dan Biglia ribut di bangku cadangan Milan. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Meski masalah sudah terselesaikan, Gattuso menegaskan tidak menolerir keributan yang terjadi karena kurangnya respek di antara pemain.


"Kekalahan yang paling menyakitkan saya ialah Kessie dan melihat apa yang terjadi di bangku cadangan. Itu sesuatu yang tak bisa saya terima dengan cara saya melihat sepak bola, cara saya melihat tim dan sikap grup," tambah Gattuso.



"Harus selalu ada respek untuk semuanya di ruang ganti pemain dan itu tidak dapat diterima. Sayalah pelatihnya, saya harus menjaga kedisiplinan di ruang ganti pemain dan pemain tahu seberapa pedulinya saya mengenai hal tersebut."


"Anda bisa mengkritisi taktik saya, tapi saya membangung karier saya berdasarkan respek, sikap grup, mewakili jersey, menghargai rekan setim yang tidak bermain selama berbulan-bulan. Ini berarti dunia (segalanya) bagi saya dan inilah mengapa saya merasakan kekalahan beruntun," pungkas Gattuso.