4 Alasan Mengapa Jurgen Klopp Mendapatkan Perlakuan Berbeda dari Media

Awal kedatangan Jurgen Klopp di tahun 2015, dia digadang-gadang akan meraih banyak kesuksesan bersama Liverpool. Bermodalkan prestasi gemilangnya bersama Borussia Dortmund di tahun 2008 hingga 2015 -- yakni dua titel Bundesliga, satu DFB-Pokal, dan dua DFL-Supercup, manajer asal Jerman itu dengan mudah mendapatkan hati publik Anfield.


Namun kini fakta berbicara lain, hingga musim 2018/19 -- atau sudah memasuki musim ketiganya di Inggris, Klopp sama sekali belum mempersembahkan trofi apapun dan parahnya gagal di tiga final berbeda, antara lain League Cup dan Europa League di musim 2015/16 lalu yang terakhir Champions League 2017/18.


Kendati demikian, media seakan acuh dengan semua hasil buruk yang didapat The Reds  dan bahkan cenderung membela Klopp. 


Fakta ini jelas berbeda dengan eks manajer Chelsea yang kini menukangi Manchester United,  Jose Mourinho. Sepertinya apa yang dia lakukan selalu menjadi pembahasan menarik untuk media, bahkan tak jarang dirinya menerima kritik tajam serta serangan dari berbagai pihak.


Kira-kira apa saja hal yang membuat Klopp seolah menjadi media darling dan mendapat perlakuan berbeda? Berikut penjabarannya.

4. Sepakbola Ofensif yang Diterapkan Liverpool

Sepakbola ofensif saat ini nampaknya memang lebih disukai, selain tak membosankan, penonyon pun terhibur dengan permainan cepat, terbuka dan tidak monoton yang ditampilkan pera pemain.


Klopp datang ke Liverpool  dengan membawa filosofi Gegenpresing. Ini merupakan filosofi bermain yang sederhana, yakni merebut bola cepat dari penguasaan bola lawan, dan melakukan transisi cepat dari bertahan menjadi serangan tim.


Strategi ini memang benar-benar dijalankan dengan baik, bahkan di musim 2017/18 mereka sukses melaju ke partai final Champions League  dan lini depan tim yang diisi Sadio Mane, Roberto Firmino dan Mohemed Salah sukses mencetak total 89 gol di seluruh kompetisi.


Sementara kini di musim 2018/19, mereka masih belum terkalahkan di Premier League  dan menempati posisi dua klasemen sementara.

3. Jarang Ada Kritik Tajam dari Pandit Sepakbola

Liverpool merupakan klub papan atas yang sudah banyak melahirkan pemain-pemain ternama dan legenda-legenda hebat, sebut saja Steven Gerrard, Jamie Carragher, Graeme Souness dan Jamie Redknapp.


Setelah gantung sepatu, tiga nama terakhir memang memutuskan untuk melanjutkan kariernya sebagai pandit, namun sepertinya hanya Carragher yang sesekali memberikan komentar atau kritik tajam pada Liverpool atau khususnya Jurgen Klopp.


"Satu hal yang saya sangat suka dari Liverpool adalah bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Bahkan hingga saat ini saya merasa Klopp belum melakukan kesalahan apapun" ucap Redknapp.


Bagi pihak lain, komentar Redknapp tentu saja terasa aneh, bagaimana Klopp belum melakukan kesalahan selama berada di Anfield? Terlepas dari keberhasilannya mendatangkan pemain-pemain incaran seperti Mohamed Salah, Naby Keita, Virgil van Dijk dan terakhir Alisson Becker, faktanya, manajer asal Jerman itu bahkan sama sekali belum menorehkan prestasi apapun.


Hal ini jelas berbeda dengan dua pemain legendaris Manchester United  yang juga berprofesi sebagai pandit, Paul Scholes dan Rio Ferdinand yang tak sungkan untuk memberikan kritik tajam pada Mourinho. 


Bahkan Scholes sempat berkomentar bahwa manajer asal Portugal itu sangat memalukan karena gagal mengantarkan timnya menang dalam empat laga beruntun.


"Sebenarnya saya merasa terkejut karena dia (Jose Mourinho) masih bisa bertahan setelah apa yang terjadi setelah tim kalah kontra West Ham United). Performa tim sangatlah buruk," ujar Scholes seperti dilansir ​ESPN.


"Dia menghadiri konferensi pers hanya untuk mengatakan hal-hal buruk tentang pemain dan menyerang orang-orang di atasnya (para petinggi klub) karena Mourinho tak mendapatkan pemain yang diinginkan. Dia benar-benar tak bisa mengontrol kata-kata dan sangat memalukan," tutup pria berusia 44 tahun itu.

2. Puasa Gelar Terlalu Lama, Tidak Ada Ekspektasi Tinggi untuk Liverpool

Status Jurgen Klopp saat meninggalkan Borussia Dortmund  di tahun 2015 memang bak pahlawan, terlebih tujuh tahun menukangi Die Borussen  dia sukses mematahkan dominasi Bayern Munchen dan memenangkan dua titel Bundesliga, satu DFB-Pokal, dua DFL-Supercup.


Namun seiring berjalannya waktu, ekspektasi tinggi publik pada klub yang bermarkas di Anfield itu perlahan-lahan memudar, hal ini sepertinya terjadi karena mereka juga sudah terlalu lama tak mendapatkan gelar apapun. 


Trofi terakhir yang didapat The Reds  adalah 2006 dan itu adalah Community Shield yang juga dimenangkan Chelsea. Sementara trofi paling bergengsi yang terakhir kali mereka dapat adalah Champions League di tahun 2005. Lain cerita untuk liga, Liverpool  terakhir menjuarainya di musim 1989/90 bahkan Premier League  masih bernama Football League First Division.


Publik dan para penggemar pun seolah sudah terbiasa, terlebih mereka juga selalu gagal menjadi juara dan harus puas dengan posisi runner up di tiga final berbeda, yakni League Cup dan Europa League di musim 2015/16 serta Champions League 2017/18.


Tekanan dan perlakuan media pada Klopp jelas berbeda dengan manajer Manchester United,  Jose Mourinho. Terlebih jika melihat pengalamannya selama berkarier di dunia kepelatihan. Manajer berusia 55 tahun itu dikenal sebagai sosok yang selalu bisa memberikan trofi pada setiap tim yang dia pimpin.


Kini Mourinho kembali menjadi sorotan kala gagal mempersembahkan trofi apapun di musim 2017/18. Bahkan hingga saat ini, dia masih jadi sasaran empuk media seiring dengan performa inkonsisten Man United pada musim 2018/19.

1. Dukungan Kuat dari Para Penggemar

Hubungan baik antara klub dengan suporter memang sudah sepatutnya dijaga, pasalnya mereka juga menjadi 'nyawa' dari sebuah tim.


Hal ini nampaknya juga berlaku di Liverpool,  publik Anfield benar-benar sudah tersihir pesona Jurgen Klopp dan masih yakin dengan kinerja manajer asal Jerman tersebut, meski selama hampir tiga tahun menukangi tim, dia masih belum mempersembahkan trofi apapun.


Dukungan publik Anfield pun kian menjadi-jadi saat Klopp memutuskan untuk melakukan kegiatan yang sudah sering dia lakukan kala masih menukangi Dortmund, berbaur dengan para penggemar.


Satu peristiwa menarik terjadi pasca Liverpool  dikalahkan Real Madrid di final Champions League,  Mei silam. Pagi harinya Jurgen Klopp berbaur dengan para penggemar, melompat, menari-nari dan bahkan bernyanyi bersama.


Klopp nampaknya memang sosok yang berbeda, di saat manajer lain mencuri hati para penggemar dengan hasil atau trofi yang dimenangkan, dia malah memilih untuk melebur dan menjadi bagian dari mereka.


Ya, dirinya saat ini memang sangat dicintai oleh para penggemar, tetapi jika terus gagal mempersembahkan trofi, apakah mereka akan terus sabar dan mendukung Jurgen Klopp? Entahlah, hanya waktu yang dapat menjawabnya.