​Chelsea memang berhasil menutup musim 2016/17 dengan memenangkan ​Premier League, keberhasilan tersebut terasa lebih istimewa karena mereka juga sukses mencatatkan rekor tak terkalahkan dalam 13 pertandingan beruntun. 


Selain taktik dan formasi 3-4-3 yang benar-benar diterapkan optimal, performa para pemain juga patut diberi acungan jempol, salah satunya adalah penyerang andalan tim, Diego Costa. Seperti diketahui dirinya memang menjadi sosok yang paling ditakuti tim lawan. Tercatat pemain berusia 30 tahun itu sukses mengoleksi 20 gol dan delapan assist.


Sayang masa-masa indah Costa di Stamford Bridge harus usai di akhir musim, hubungannya dengan manajer tim, Antonio Conte retak setelah dirinya mendapatkan pesan singkat dari Conte yang berisi bahwa ia tak lagi dibutuhkan di dalam skuat. Hal ini kemudian membuat pemain kelahiran Lagarto, Brasil itu memilih pulang ke klub lamanya, Atletico Madrid.

Kekosongan di lini depan membuat ​The Blues bergerak cepat mencari suksesornya,​ Alvaro Morata dibeli dari ​Real Madrid dengan nilai transfer yang cukup fantastis, 70 juta poundsterling untuk masa kontrak lima musim. Kepindahan eks pemain​ Juventus itu juga cukup rumit, mengingat sebelumnya dia adalah incaran utama​ Manchester United.


Ekspektasi tinggi langsung disematkan publik -- termasuk saya pada ​Morata, terlebih jika melihat harga sekaligus catatan golnya kala membela ​El Real. Meski lebih banyak memulai laga dari bangku cadangan dan kalah bersaing dengan Karim Benzema atau ​Cristiano Ronaldo, dia tetap sukses mengoleksi 27 gol di musim 2016/17.


Musim perdananya di Inggris pun berjalan dengan baik, ​Morata tak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi dan langsung menempati posisi penyerang utama. Bahkan saat melakoni debut di kompetisi ​Premier League, dia sukses mencetak satu gol dan satu assist meski timnya takluk dari Burnley dengan skor 2-3.


Performa impresifnya terus berlanjut.​ Morata juga dapat diandalkan kala ​Chelsea berhadapan dengan tim-tim kuat. Dia memastikan kemenangan tim kontra ​Manchester United, juga Atletico Madrid di ​Champions League. Sayang performa sang pemain mulai menurun setelah dibekap cedera punggung -- yang juga membuatnya absen dalam waktu yang cukup lama.

Cedera punggung yang membekap ​Morata sepertinya benar-benar menjadi mimpi buruk pemain berusia 26 tahun itu. Setelah pulih dan kembali ke starting XI, dia seakan sulit untuk mencatatkan namanya di papan skor. 


Bahkan sebelum mengakhiri paceklik golnya di laga kontra Leicester City yang sekaligus mengantarkan ​The Blues ke semifinal FA Cup pada Maret 2018, dia sempat tidak mencetak gol hampir tiga bulan. Terakhir kali dia membobol gawang lawan adalah pada Desember 2017, saat timnya mengalahkan Bournemouth di perempat final League Cup.


Tidak hanya memengaruhi performa, ​Morata pun kerap memperlihatkan rasa frustrasinya kala berada di lapangan. Tercatat dirinya mengoleksi delapan kartu kuning dan satu kartu merah. Tak jarang, pemain berpostur tinggi 187 cm itu juga lebih banyak mengeluh. Hal ini pun akhirnya diakui oleh sang pemain.


"Saya memang sempat mengalami periode sulit. Jika turun hujan (dalam pertandingan), saya akan marah. Saya pun akan mengatakan kegagalan dalam mencetak gol disebabkan oleh lapangan yang terlalu basah. Sebenarnya itu hanyalah alasan -- dan hal tersebut tidaklah baik," ujar ​Morata dilansir ​Goal.


Sebelum memutuskan untuk kembali ke Santiago Bernabeu pada musim 2016/17, ​Morata sempat mengadu nasib ke Italia dan memperkuat ​Juventus di tahun 2014 hingga 2016. 


Dua musim di Turin, dia sukses mengoleksi 27 gol dan 19 assist. Namun sebelum menunjukkan ketajamannya, sang pemain juga sempat mengalami periode sulit. Bahkan ​Morata sempat tidak mencetak gol selama 100 hari.


"Publik selalu berpikir jika kami (para pesepakbola) adalah sebuah mesin. Mereka tak tahu bahwa di balik performa buruk pemain, selalu ada masalah personal di dalamnya. Contohnya masalah keluarga. Anda punya perasaan, membuat kesalahan -- layaknya manusia normal," ujar ​Morata dilansir ​Guardian.


"Saya sedikit tersesat. Hal yang saya inginkan saat itu adalah gol. Saya bahkan sampai berargumen dengan beberapa sosok penting dalam kehidupan. Saya meninggalkan rumah saat masih berusia sangat muda dan kemudian harus berjuang keras untuk mendapatkan tempat utama di ​Juventus."


Namun kemudian ​Madrid juga memiliki opsi pembelian kembali. Masa depan tidak bisa ditentukan oleh diri saya sendiri. Semua hal itu memengaruhi dan mengganggu fokus saat berada di lapangan," tutupnya.

Meski akhirnya sukses membuktikan kualitasnya dan mengantarkan ​Bianconeri memenangkan dua Scudetto dan dua Coppa Italia, bukan berarti​ Morata terbebas dari rasa frustrasi. Hal ini diakui langsung oleh legenda Juventus dan Timnas Italia, Gianluigi Buffon.


"Alvaro sempat memiliki pikiran negatif di periode terakhirnya bersama Juventus. Kami sempat membahas hal ini karena saya merasa kasihan padanya. Sebagai rekan setim, saya ingin memberikan perlindungan. Dia layak untuk mendapatkan bantuan dari rekan-rekannya," ujar Buffon seperti dilansir ​Football Italia.


Hal ini pun diamini oleh ​Morata. Dia bahkan akui jika dirinya juga sempat menangis di ruang ganti seusai menjalani sesi latihan yang berat.


"Saya baru saja selesai menjalani sesi latihan terberat sekaligus terburuk sepanjang berkarier sebagai pesepakbola. Selama latihan, saya bahkan tidak mampu mengontrol bola dengan baik. Fisioterapis klub kemudian bertanya dan memastikan apakah saya baik-baik saja. Lalu kemudian mengatakan bahwa saat itu saya tengah merasa sedih," ungkap Morata dilansi​Give Me Sport.


"Buffon kemudian datang dan menghampiri saya. Dia menegaskan bahwa jika saya ingin menangis, maka lakukanlah hal tersebut di rumah. Menurutnya orang yang berharap saya jatuh akan senang jika melihat hal ini, sementara orang-orang yang mendukung saya akan merasa kecewa," tambah dia.

Jika melihat fakta-fakta di atas, permasalahan utama yang dihadapi ​Morata sebenarnya adalah kurangnya rasa percaya diri. Ia pun terlihat sangat lemah, padahal di sisi lain sebagai striker sudah selayaknya dia memiliki daya juang tinggi dan menjadi sosok tangguh yang dapat diandalkan di lini depan tim.


Kini di musim 2018/19 di bawah arahan Maurizio Sarri, pemain asal Spanyol ini mulai bangkit dan sepertinya sudah mulai melupakan segala kesulitan yang pernah dia hadapi di musim-musim sebelumnya. Selain sukses membuat ​Chelsea terus meraih kemenangan dan masih jadi tim yang belum terkalahkan di seluruh ajang, ​Morata juga sudah mulai menunjukkan ketajamannya.


Di pertandingan kontra Crystal Palace, dia sukses mencetak dua gol yang sekaligus menjadi gol ketiganya dalam lima pertandingan terakhir. Total ​Morata sudah mengoleksi enam gol dan melampaui catatan dua penyerang papan atas sekaligus rivalnya, Romelu Lukaku dan Roberto Firmino.


Kini para penikmat sepakbola, termasuk saya hanya tinggal menunggu konsistensi dari pemain bernama lengkap Alvaro Borja Morata Martin itu. Jika dia bisa melakukannya, maka bukan tak mungkin jika ayah dua anak ini akan kembali mencapai puncak performa dan mengantarkan ​The Blues meraih banyak kesuksesan.