5 Alasan Mengapa Jose Mourinho Masih Layak Disebut 'The Special One'

Empat belas tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kakinya di Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sosok yang spesial karena berhasil menjadi juara Eropa (Champions League) bersama FC Porto. 


Meski di kemudian hari dia mengaku telah membuat kesalahan dengan memberi dirinya sendiri julukan seperti itu, yang juga diakuinya sebutan itu muncul karena dia merasa tertekan dengan begitu banyak pertanyaan berat yang harus dijawabnya dalam satu konferensi pers. Namun, sejarah membuktikan bahwa Mourinho adalah salah satu pelatih terbaik di generasinya. 


Kejatuhannya bersama Chelsea di musim 2015/16 memunculkan keraguan apakah dirinya masih layak menyandang julukan The Special One. Akan tetapi, di tengah badai kritik dalam perjalanan kepelatihannya bersama Manchester United, ada lima alasan mengapa Mourinho tetap harus dipandang dengan julukan bernuansa eksentrik tersebut.

5. Bisa Memaksimalkan Pemain Muda di Manchester United

Satu hal yang diprediksikan bakal terjadi seiring kedatangan Mourinho ke Old Trafford pada musim panas 2016 adalah hancurnya masa depan bakat-bakat muda yang dimiliki United saat itu. 


Waktu berlalu, Mourinho membuktikan diri bahwa dirinya bukan monster bagi para pemain muda. Marcus Rashford dan Jesse Lingard menjadi bintang baru di hati penggemar, nama pertama bahkan menjadi pemain dengan jumlah penampilan terbanyak di era kepelatihan United. 


Dan, tentu saja kita semua masih belum melupakan solidnya permainan Scott McTominay ketika Paul Pogba sedang tidak berada dalam performa terbaiknya.

4. Para Pemain Rekrutan Mourinho Punya Kontribusi Bagus

Bersama United, Mourinho membangun skuatnya dengan bertahap. Petinggi di Old Trafford bersedia memberikan waktu yang cukup panjang bagi Mourinho untuk memperbaiki komposisi skuat Setan Merah. 


Sejauh ini, Mou sudah mendatangkan delapan pemain, dengan satu pemain didatangkan secara gratis pada musim panas 2016, Zlatan Ibrahimovic. Perekrutan Zlatan memiliki misi yang berbeda dibanding rekrutan Mourinho lainnya. Dengan usia sudah mencapai 36 tahun, Zlatan didatangkan untuk misi jangka pendek. Pengalamannya amat dibutuhkan oleh skuat United yang masih cukup muda dari segi pengalaman dan kontribusinya di atas lapangan juga tak bisa dibantah. 


Sedangkan enam rekrutan lainnya adalah Eric Bailly, Victor Lindelof, Paul Pogba, Nemanja Matic, Alexis Sanchez, dan Romelu Lukaku yang baik secara perlahan maupun cepat mampu memberikan kontribusi berarti di dalam tim dan kerap menjadi pilihan utama sang manajer.


Satu rekrutan yang bisa dikata gagal adalah Henrikh Mkhitaryan, yang kini sudah dilego ke Arsenal.

3. Mampu Mengangkat Performa Beberapa Pemain yang Diremehkan

Tak ada yang menyangka Mourinho mampu menyulap Antonio Valencia menjadi fullback penuh energi. Ashley Young menampilkan performa efektif di beberapa laga besar yang membuatnya diganjar panggilan ke timnas Inggris setelah enam tahun lamanya. 


Ada nama Ander Herrera yang juga tampil luar biasa di musim pertama Mourinho. Ketiga nama ini awalnya tidak diprediksi bakal memberikan kontribusi penting bagi United. Namun saat menghadapi lawan yang mengusik gengsi Mourinho, para pemain ini siap menjalankan segala instruksi yang diberikan manajer mereka dan tampil gemilang.

2. Membuat Performa Setan Merah Lebih Baik Secara Keseluruhan

Sejak Sir Alex Ferguson lengser pada musim panas 2013, Manchester United tidak pernah mengakhiri musim dengan koleksi lebih dari 70 poin, termasuk musim 2016/17 lalu ketika mereka hanya duduk di posisi keenam dengan 69 poin.


Namun di musim ini, dengan lima laga yang masih tersisa, mereka telah mengoleksi 71 poin. Andai mereka menyapu bersih lima laga tersebut dengan kemenangan, perolehan poin mereka adalah 86 poin, menyamai jumlah poin City saat menjadi juara pada 2013/14, hanya berselisih satu poin dari skuat juara Chelsea pada 2014/15, dan bahkan lima poin lebih banyak dari jumlah poin Leicester City saat mengangkat trofi juara pada 2015/16.


Peningkatan jelas telah ditunjukkan Jose Mourinho. Kalau para penggemar United begitu mengagungkan Sir Alex Ferguson, mereka jelas tahu Fergie tidak membangun dinasti sepakbola yang kemudian berkuasa di Inggris selama nyaris dua dekade dalam waktu dua musim, ini adalah saatnya konsistensi standar penilaian mereka terhadap  kinerja seorang manajer diuji. 


Jose benar, tim-tim raksasa Eropa sekelas Real Madrid dan Barcelona pun tidak membangun kekuatan mereka dalam semalam dan tidak mampu melakukannya terus menerus setiap musim. Sebagai contoh, sebelum kembali menjadi raksasa Eropa dan Spanyol, ada jeda selama enam tahun (1999-2005) bagi skuat Barcelona untuk bisa kembali menjadi juara La Liga dan kemudian menjadi juara Eropa setelah vakum mencicipi tangga juara sejak 1992.


Sampai di sini, bukankah sebuah pemikiran yang naif jika menganggap United harus meraih segalanya di bawah Mourinho dalam hitungan satu, dua, tiga musim, hanya karena kejayaan masa lalu United? 

1. Mourinho Adalah Santapan Empuk Media

Media menyukai Mourinho dengan cara mereka sendiri dan pria Portugal ini sepertinya memang sejenis makhluk dengan banyak karakter yang bisa dimainkannya. Dia adalah seorang manajer kharismatik yang jelas paham taktik, tapi di lain waktu dia bisa jadi seorang pecundang yang menggelikan, badut lapangan, tukang lempar tanggung jawab, dibenci beberapa pemain, tapi juga dipuja para pemain lain yang menjadi loyalisnya. 


Pernah melihat nama Mourinho menghilang selama seminggu penuh dari pemberitaan media? Tentu saja tidak...